Ambar Arum Putri Hapsari
mahasiswa Universitas STEKOM, BERITA CINTAMenulis di Beritacinta, saya berbagi cerita, tips, dan inspirasi seputar cinta dan hubungan. Semoga tulisan-tulisan di sini bisa menemani dan memberi warna di perjalanan cinta kamu.
Kalau dengar kata “mertua”, banyak orang langsung punya bayangan yang… tidak terlalu menyenangkan. Cerewet, suka ikut campur, susah disenangkan—stereotip ini sudah lama beredar.
Tapi pertanyaannya, apakah mertua memang semenyeramkan itu? Atau kita yang sudah terlanjur takut duluan?
Sebagian besar berasal dari cerita—entah dari teman, keluarga, atau bahkan film dan media sosial.
Cerita-cerita ini membentuk persepsi bahwa hubungan dengan mertua itu penuh drama. Akibatnya, sebelum benar-benar mengalami, banyak orang sudah punya rasa khawatir duluan.
Padahal, tidak semua mertua seperti itu.
Coba lihat dari sisi mereka.
Anak yang selama ini mereka rawat, sekarang “berbagi hidup” dengan orang lain. Wajar kalau ada rasa:
khawatir,
ingin memastikan anaknya bahagia,
Atau kadang terlalu ingin terlibat.
Yang terlihat seperti “ikut campur”, kadang sebenarnya bentuk perhatian—meski cara menyampaikannya kurang tepat.
Ada mertua yang memang sulit, itu tidak bisa dipungkiri. Tapi banyak juga yang:
hangat,
supportive,
Dan justru jadi seperti orang tua sendiri.
Hubungan dengan mertua sangat bergantung pada:
cara komunikasi,
sikap kita,
dan bagaimana kita membangun batasan yang sehat.
Biasanya bukan karena satu pihak saja.
Kurangnya komunikasi, ekspektasi yang tidak tersampaikan, atau sikap defensif bisa membuat hubungan jadi tegang.
Kadang kita terlalu cepat menilai, tanpa benar-benar mencoba memahami.
Daripada takut, lebih baik siap beradaptasi.
Setiap keluarga punya cara dan kebiasaan yang berbeda. Tidak semua harus diubah, tapi perlu dipahami.
Kunci utamanya ada di:
saling menghargai,
menjaga sikap,
Dan tahu batas tanpa harus bersikap kasar.
Hubungan dengan mertua tidak harus selalu akrab seperti di film. Yang penting adalah:
tidak saling menyakiti,
Dan bisa hidup berdampingan dengan nyaman.
Kadang, hubungan yang “cukup baik” sudah lebih dari cukup.
Mertua tidak selalu semenyeramkan yang dibayangkan. Banyak ketakutan yang sebenarnya berasal dari stigma, bukan pengalaman nyata.
Yang menentukan bukan siapa mertua kamu, tapi bagaimana kamu menyikapinya. Karena pada akhirnya, hubungan yang sehat selalu dibangun dari dua arah.