
Menulis di Beritacinta, saya berbagi cerita, tips, dan inspirasi seputar cinta dan hubungan. Semoga tulisan-tulisan di sini bisa menemani dan memberi warna di perjalanan cinta kamu.
Situational crush adalah perasaan suka yang muncul karena kondisi tertentu dan bukan murni karena cinta mendalam. Situational crush merupakan ketertarikan emosional yang dipicu oleh situasi seperti kebersamaan intens, rutinitas yang sama, atau momen emosional yang berulang. Banyak orang tidak menyadari bahwa rasa suka ini bersifat sementara karena terasa nyata dan menggebu di awal kemunculannya.
Situational crush sering terjadi di lingkungan yang mempertemukan dua orang secara konsisten. Kampus, kantor, komunitas, atau kegiatan sukarela menjadi tempat paling umum munculnya perasaan ini. Kedekatan yang tercipta karena frekuensi bertemu membuat rasa nyaman tumbuh dengan cepat. Namun rasa tersebut lebih melekat pada situasi daripada pada pribadi seseorang secara utuh.
Kondisi emosional memainkan peran besar dalam munculnya situational crush. Saat seseorang berada di fase lelah, stres, atau membutuhkan dukungan, kehadiran orang lain bisa terasa sangat berarti. Otak lalu mengasosiasikan rasa aman dan nyaman itu sebagai ketertarikan. Faktor lain seperti kebosanan, kesamaan rutinitas, dan intensitas komunikasi juga memperkuat perasaan tersebut.
Salah satu ciri paling jelas adalah rasa suka yang sangat bergantung pada konteks. Ketika situasi berubah, misalnya pindah tempat kerja atau jarang bertemu, perasaan itu ikut memudar. Selain itu, ketertarikan biasanya tidak disertai keinginan membangun masa depan bersama. Rasa kangen pun lebih tertuju pada suasana, bukan pada sosoknya secara menyeluruh.
Cinta cenderung stabil dan bertahan meski jarak atau kondisi berubah. Sebaliknya, situational crush cepat naik dan cepat turun. Cinta melibatkan penerimaan terhadap kekurangan pasangan, sedangkan situational crush sering hanya menyukai sisi tertentu yang muncul dalam situasi spesifik. Inilah alasan mengapa banyak orang merasa perasaannya tiba tiba hilang tanpa sebab jelas.
Jika tidak disadari, situational crush bisa menimbulkan kebingungan emosional. Terutama bagi seseorang yang sudah memiliki pasangan, rasa ini dapat memicu konflik batin dan rasa bersalah. Kesadaran diri menjadi penting agar tidak mengambil keputusan impulsif yang berujung penyesalan.
Mengenali bahwa perasaan ini bersifat sementara membantu seseorang berpikir lebih rasional. Memberi jarak emosional, mengurangi intensitas interaksi, dan mengevaluasi perasaan secara jujur dapat membantu meredakan situational crush. Perasaan ini manusiawi, namun kedewasaan terletak pada cara menyikapinya.