Ambar Arum Putri Hapsari
mahasiswa Universitas STEKOM, BERITA CINTAMenulis di Beritacinta, saya berbagi cerita, tips, dan inspirasi seputar cinta dan hubungan. Semoga tulisan-tulisan di sini bisa menemani dan memberi warna di perjalanan cinta kamu.
Pernah merasa satu circle kayak kompak menjauh? Grup chat sunyi kalau kamu muncul. Nongkrong tetap jalan tapi kamu baru tahu dari story. Lalu kamu menyimpulkan dunia jahat.
Tunggu dulu.
Kadang kita terlalu cepat menyebut diri korban, padahal tanpa sadar kita sedang membangun reputasi yang bikin orang capek. Public enemy itu bukan gelar resmi, tapi status sosial yang terbentuk pelan-pelan karena pola sikap.
Pertanyaannya bukan mereka kenapa sih. Tapi aku sebenarnya gimana sih.
Ciri pertama Public Enemy adalah hobi menyalahkan. Kalau ada konflik, kamu selalu punya alasan kenapa itu bukan salahmu. Mantan toxic. Teman iri. Rekan kerja gak profesional.
Lucunya, daftar orang bermasalah di hidupmu panjang banget, tapi kamu satu-satunya yang konsisten ada di semua cerita.
Kalau semua orang terasa salah, mungkin ada satu variabel yang belum kamu evaluasi.
Kamu bilang jujur. Orang lain bilang nyelekit. Kamu bilang cuma bercanda. Orang lain bilang merendahkan.
Public enemy sering tidak sadar bahwa komentarnya melukai. Suka buka aib orang dengan dalih transparan. Suka membocorkan rahasia dengan alasan spontan.
Kepercayaan itu mahal. Sekali kamu dikenal gak bisa menyimpan cerita, orang akan menjaga jarak tanpa perlu rapat koordinasi.
Setiap ada masalah, kamu update. Setiap ada konflik, kamu spill. Setiap ada beda pendapat, kamu bikin kubu.
Drama mungkin bikin kamu merasa penting, tapi buat orang lain itu melelahkan. Lama-lama mereka memilih tenang tanpa kamu.
Public enemy sering merasa dijauhi tanpa sebab. Padahal orang cuma ingin hidup yang lebih damai.
Yang paling pedas adalah ini. Kamu ingin dimengerti, tapi jarang mencoba mengerti. Kamu ingin diterima, tapi jarang menerima kritik.
Padahal jadi dewasa itu bukan soal menang argumen, tapi berani mengakui kalau mungkin kita pernah salah.
Kalau beberapa ciri tadi terasa familiar, ini bukan untuk menyerang. Ini untuk mengingatkan.
Karena menjadi public enemy bukan takdir. Itu kebiasaan.
Dan kabar baiknya, kebiasaan bisa diubah. Asal kamu cukup berani untuk jujur pada diri sendiri.
Jadi, apakah kamu termasuk? Atau kamu sudah tahu jawabannya dari awal membaca ini.