
Menulis di Beritacinta, saya berbagi cerita, tips, dan inspirasi seputar cinta dan hubungan. Semoga tulisan-tulisan di sini bisa menemani dan memberi warna di perjalanan cinta kamu.
Self sabotage adalah istilah kata gaul yang menggambarkan perilaku seseorang yang tanpa sadar justru merusak dirinya sendiri. Self sabotage merupakan pola tindakan, pikiran, atau kebiasaan yang membuat seseorang gagal, tertahan, atau menyakiti diri sendiri meskipun sebenarnya ia menginginkan hasil yang baik. Fenomena ini sering muncul dalam hubungan, karier, maupun kehidupan pribadi, dan kerap terjadi secara halus sehingga sulit disadari.
Self sabotage bukan tentang kurangnya kemampuan, melainkan konflik batin yang belum terselesaikan. Banyak orang terlihat kuat dan berambisi, namun secara tidak sadar membuat keputusan yang menjauhkan mereka dari tujuan. Contohnya menunda pekerjaan penting, memilih pasangan yang jelas tidak sehat, atau meragukan diri sendiri saat peluang datang.
Self sabotage sering berakar dari rasa takut. Takut gagal, takut sukses, takut ditinggalkan, atau takut tidak cukup baik. Trauma masa lalu, pola asuh, dan pengalaman hubungan yang menyakitkan juga bisa membentuk kebiasaan ini. Ketika seseorang merasa tidak layak bahagia, otaknya akan mencari cara untuk mengonfirmasi keyakinan tersebut.
Dalam hubungan, self sabotage bisa muncul dalam bentuk overthinking, cemburu berlebihan, menarik diri saat pasangan mulai serius, atau justru bertahan dalam hubungan toxic. Tanpa disadari, seseorang menciptakan konflik agar hubungan berakhir, lalu merasa dikuatkan bahwa cintanya memang selalu gagal.
Dampak Jangka Panjang Self Sabotage
Jika dibiarkan, self sabotage dapat menguras energi mental dan menurunkan kepercayaan diri. Seseorang bisa merasa stuck, lelah, dan mempertanyakan nilai dirinya sendiri. Pola ini juga membuat orang sulit berkembang karena setiap langkah maju selalu diikuti oleh tindakan yang menariknya kembali.
Langkah awal adalah menyadari pola berulang dalam hidup. Jika kegagalan terjadi dengan pola yang sama, kemungkinan besar ada self sabotage di dalamnya. Refleksi diri, menulis perasaan, dan berani jujur pada diri sendiri sangat membantu untuk mengenali akar masalah.
Menghentikan self sabotage tidak harus drastis. Mulailah dengan membangun self awareness dan belajar menerima bahwa diri sendiri layak untuk berhasil dan bahagia. Mengganti dialog batin yang keras dengan sikap lebih penuh empati juga menjadi langkah penting dalam proses pemulihan.
Self sabotage bukan tanda kelemahan, melainkan sinyal bahwa ada luka yang perlu disembuhkan. Saat seseorang mulai memahami dirinya, pola merusak diri perlahan akan kehilangan kendalinya.