Menulis di Beritacinta, saya berbagi cerita, tips, dan inspirasi seputar cinta dan hubungan. Semoga tulisan-tulisan di sini bisa menemani dan memberi warna di perjalanan cinta kamu.
19
aku pernah menjadi seseorang masalalu yg kalah dengan orang baru. Hubungan yang sudah kujalani selama empat tahun bersama kekasihku harus kandas begitu saja hanya karena hadir seorang perempuan yang bahkan baru dikenalnya beberapa hari.
Awalnya aku sulit menerima kenyataan itu. Namun, perlahan aku mencoba merelakannya. Aku berpikir, mungkin orang baru memang selalu terlihat lebih menarik dibandingkan seseorang yang sudah lama dikenal. Hubungan yang telah berjalan bertahun-tahun mungkin mulai terasa biasa, bahkan membosankan karena terlalu banyak hal yang sudah dilewati bersama.
Mungkin itulah yang dirasakan mantanku saat itu. Ia memilih seseorang yang baru, sementara aku harus menerima kenyataan bahwa empat tahun kebersamaan ternyata tidak cukup untuk membuatnya bertahan.
Aku Kembali Jatuh Cinta kepada Seseorang
Beberapa waktu kemudian, aku bertemu dengan seorang laki-laki bermata teduh dan memiliki senyum yang manis. Saat itu kami sama-sama single. Yang membuatku merasa lebih dekat dengannya adalah kenyataan bahwa ia juga pernah menjadi korban perselingkuhan dari pasangan sebelumnya.
Aku sempat merasa lega. Dalam pikiranku, dia pasti tidak akan sejahat mantanku karena dia sendiri pernah merasakan sakitnya dikhianati.
Hari-hari berlalu. Hubungan kami yang awalnya hanya pertemanan mulai berubah. Dia mengajakku menjalin hubungan yang lebih serius, dan aku menerimanya.
Tanpa sadar, aku kembali membuat keyakinan yang sama dalam pikiranku. Aku berpikir bahwa orang baru selalu lebih menarik daripada orang lama. Karena itu, aku yakin kehadiranku akan membuatnya melupakan mantannya, seperti yang pernah dilakukan mantanku kepadaku.
Ternyata aku salah.
Lagi dan Lagi Aku Merasa Kalah
Sebulan, dua bulan berlalu. Aku mulai merasa bahwa kehadiranku ternyata belum cukup untuknya. Ia masih sering membandingkan sikap dan sifatku dengan mantan kekasihnya. Hal-hal kecil tentang mantannya pun masih sering muncul dalam percakapan kami.
Awalnya aku mencoba memahami. Aku tahu melupakan seseorang yang pernah menjadi bagian penting dalam hidup bukanlah hal mudah. Aku pun pernah merasakan betapa sulitnya melepaskan kenangan.
Namun, semakin lama aku merasa bahwa aku tidak akan pernah cukup. Seolah-olah aku terus berdiri di samping seseorang yang masih sibuk melihat ke belakang.
Lagi dan lagi, aku merasa kalah.
Jika dulu aku kalah dengan seseorang yang baru dikenal mantanku, kali ini aku merasa kalah dengan masa lalu kekasihku sendiri.
Dulu aku selalu menyalahkan keadaan dan tidak terima ketika seseorang memperlakukanku seperti itu. Tetapi seiring berjalanya waktu, aku mulai memahami sesuatu: bahwa kita sebenarnya tidak kalah ketika berada bersama orang yang tepat.
Orang yang tepat tidak akan membuat kita merasa sedang bersaing dengan siapa pun, baik dengan orang baru maupun dengan masa lalunya.
Mungkin aku bukan kurang baik. Mungkin aku hanya berada di tempat yang salah, bersama seseorang yang hatinya belum sepenuhnya hadir untukku.