Menulis di Beritacinta, saya berbagi cerita, tips, dan inspirasi seputar cinta dan hubungan. Semoga tulisan-tulisan di sini bisa menemani dan memberi warna di perjalanan cinta kamu.
0
Takut kehilangan merupakan perasaan yang dapat muncul ketika seseorang terlalu khawatir ditinggalkan, dikecewakan, atau kehilangan sesuatu yang dianggap berharga. Dalam hubungan asmara, rasa takut tersebut bisa membuat seseorang menjadi sangat membutuhkan kabar, perhatian, dan kepastian dari pasangan. Jika tidak disadari dan dikendalikan, rasa takut kehilangan dapat memengaruhi cara seseorang berpikir dan mengambil sikap dalam hubungan.
Aku adalah seseorang yang sangat takut kehilangan. Bukan hanya kehilangan pasangan, tetapi juga orang-orang terdekat, barang yang kusukai, momen penting, bahkan hal-hal kecil yang memiliki kenangan bagiku.
Ketika menjalin hubungan, ketakutan itu menjadi jauh lebih besar. Aku selalu haus kasih sayang. Aku ingin tahu kabarnya, ingin terus berkomunikasi, dan merasa gelisah ketika pola komunikasi kami tiba-tiba berubah.
Sedikit saja sikapnya berbeda, pikiranku langsung berjalan ke mana-mana. Aku mulai membayangkan kemungkinan buruk. Bagaimana jika dia mulai bosan? Bagaimana jika ada orang lain? Bagaimana jika perlahan aku digantikan?
Aku Membenci Sifatku Sendiri
Awalnya aku mengira semua itu adalah kesalahanku. Aku sering menyalahkan diri sendiri karena merasa terlalu posesif dan terlalu membutuhkan pasangan. Aku sebenarnya tidak suka menjadi seperti ini. Berkali-kali aku mencoba mengendalikan pikiranku. Ketika muncul pikiran negatif, aku berusaha membuangnya. Aku mencoba menerima keadaan dan meyakinkan diri bahwa tidak semua perubahan berarti sesuatu yang buruk.
Namun, ternyata tidak semudah itu. Aku tetap membutuhkan kabar. Aku tetap gelisah ketika komunikasi tidak berjalan seperti biasanya. Bahkan ketika tidak ada alasan yang jelas untuk curiga, pikiranku tetap mencari kemungkinan bahwa sesuatu sedang disembunyikan dariku.
Semakin aku mencoba melawan perasaan itu, semakin lelah diriku sendiri. Sampai akhirnya aku mulai memahami dari mana semua ketakutan tersebut berasal.
Aku Bukan Terlalu Posesif Tanpa Alasan
Dulu aku bukan orang yang seperti ini. Aku pernah menjadi pasangan yang sangat percaya. Aku tidak pernah melarang pasanganku pergi, tidak memaksanya terus memberikan kabar, dan memberinya kebebasan untuk menjalani kehidupannya. Aku percaya bahwa seseorang yang diberikan kepercayaan akan memahami batas dalam sebuah hubungan. Ternyata aku salah. Kebebasan yang kuberikan justru dibalas dengan pengkhianatan. Kepercayaanku dihancurkan dan aku dikecewakan oleh seseorang yang selama itu kupercaya.
Sejak saat itu, sesuatu dalam diriku berubah. Aku mulai takut memberikan kebebasan karena khawatir kejadian yang sama akan terulang. Aku mulai membutuhkan kepastian karena pernah kehilangan rasa aman. Aku menjadi terlalu memperhatikan perubahan kecil karena pengalaman masa lalu membuatku selalu bersiap menghadapi kemungkinan terburuk.
Kini aku sadar bahwa membenci diri sendiri bukanlah jalan keluarnya. Aku memang perlu belajar mengendalikan rasa takut, tetapi aku juga perlu memahami bahwa sifat tersebut tidak muncul begitu saja. Ada luka yang belum selesai dan ada kepercayaan yang pernah dihancurkan.
Aku mungkin masih belajar untuk tidak membiarkan trauma masa lalu mengendalikan hubungan yang sedang kujalani. Namun, setidaknya sekarang aku tahu bahwa yang perlu kulawan bukan diriku sendiri, melainkan ketakutan yang selama ini membuatku lupa bahwa aku juga berhak merasa tenang dalam mencintai seseorang.