Menulis di Beritacinta, saya berbagi cerita, tips, dan inspirasi seputar cinta dan hubungan. Semoga tulisan-tulisan di sini bisa menemani dan memberi warna di perjalanan cinta kamu.
0
Kisah ini merupakan pengalaman seorang perempuan yang kehilangan sahabat laki-laki setelah hampir sepuluh tahun bersama. Persahabatan yang awalnya begitu dekat harus berubah ketika sang sahabat mengungkapkan perasaan cinta yang tidak bisa ia balas. Bagi sebagian orang, cinta mungkin menjadi awal sebuah hubungan, tetapi bagiku saat itu cinta justru menjadi alasan berakhirnya sebuah persahabatan yang sangat berarti.
Sejak berada di bangku Sekolah Dasar, aku memiliki seorang sahabat laki-laki yang hampir selalu bersamaku. Kami satu kelas dan bahkan sempat duduk sebangku sejak kelas 4 sampai kelas 6. Teman-temanku mengenalnya sebagai anak yang nakal dan jahil. Namun, aku melihat sisi yang berbeda. Bagiku, dia justru seperti seorang pelindung yang selalu ada ketika aku membutuhkannya.
Hampir setiap hari kami menghabiskan waktu bersama. Belajar di kelas, pergi ke kantin saat jam istirahat, mengikuti bimbingan belajar sepulang sekolah, hingga menghabiskan waktu di rumahku setelah bimbel. Karena kedua orang tuanya sering bekerja hingga larut malam, dia cukup sering bermain ke rumahku. Kedua orang tuaku pun sudah menganggapnya seperti anak sendiri.
Sebagai anak tunggal perempuan, kehadirannya terasa seperti memiliki seorang kakak sekaligus sahabat.
Ketika Sahabat Mengungkapkan Perasaan
Persahabatan kami berlangsung bertahun-tahun tanpa pernah terpikir untuk menjadi pasangan. Kami masih terlalu kecil untuk memikirkan cinta. Bagiku, dia hanyalah sahabat yang selalu menemani hari-hariku.
Namun, semuanya berubah ketika aku duduk di kelas 2 SMK. Suatu sore sepulang sekolah, saat perjalanan menuju rumahku, dia tiba-tiba berkata, “Kita selalu bareng. Gimana kalau kita pacaran saja seperti teman-teman yang lain? Aku suka dan tertarik sama kamu.”
Aku benar-benar terkejut. Tidak pernah sedikit pun terpikir bahwa dia melihatku lebih dari seorang sahabat. Aku akhirnya menjawab dengan jujur, “Enggak, aku enggak mau. Ayah dan ibuku melarang aku pacaran. Mereka juga sudah menganggap kamu seperti anak sendiri. Kamu itu seperti kakakku.”
Sejak percakapan itu, perjalanan pulang terasa berbeda. Ada sesuatu yang berubah, meskipun aku tidak tahu harus bersikap seperti apa.
Sepuluh Tahun yang Perlahan Menjadi Kenangan
Beberapa minggu setelah kejadian itu, aku mulai merasakan perubahan sikapnya. Dia semakin jarang pulang bersamaku dan lebih sering menghabiskan waktu dengan teman-temannya. Ketika berpapasan, dia bahkan terkadang berpura-pura tidak melihatku.
Lama-kelamaan, dia benar-benar menjauh. Tidak ada lagi pesan, sapaan, atau cerita seperti dulu. Aku sempat merasa bersalah, tetapi aku tetap yakin dengan keputusanku. Aku memang tidak memiliki perasaan lebih dari sekadar sahabat.
Tidak lama kemudian, aku melihatnya memiliki pasangan yang juga bersekolah di tempat kami. Sejak saat itu, hubungan kami benar-benar berubah. Kami seperti dua orang asing yang tidak pernah saling mengenal.
Aku tidak pernah menyesal telah menolak cintanya. Namun, aku tetap menyesal karena persahabatan hampir sepuluh tahun harus kandas hanya karena sebuah perasaan yang tidak bisa kubalas.
Mungkin tidak semua orang yang begitu dekat dengan kita ditakdirkan menjadi pasangan. Ada yang hadir untuk menjadi sahabat terbaik, lalu pergi ketika perasaan mereka berubah menjadi sesuatu yang tidak bisa kita balas.