Menulis di Beritacinta, saya berbagi cerita, tips, dan inspirasi seputar cinta dan hubungan. Semoga tulisan-tulisan di sini bisa menemani dan memberi warna di perjalanan cinta kamu.
0
"Terjebak di layar kaca" adalah pengakuan tentang bagaimana terlalu banyak pilihan di dating apps dapat membuat seseorang sulit merasa yakin, sulit berkomitmen, dan terus mempertanyakan apakah masih ada orang yang lebih cocok di luar sana.
Aku pernah berpikir dating apps akan mempermudah menemukan pasangan yang cocok. Tinggal swipe, chatting, lalu bertemu jika merasa nyambung. Awalnya terasa menyenangkan. Ada banyak orang baru, banyak percakapan, dan banyak kemungkinan yang membuatku merasa tidak lagi kesepian.
Namun, semakin lama aku menggunakannya, semakin aku merasa terjebak di dalam layar. Aku mulai terbiasa mengenal banyak orang dalam waktu bersamaan. Hari ini chatting dengan satu orang, besok dengan dua orang lain, lalu minggu depannya muncul lagi profil baru yang terasa lebih menarik. Setiap kali ada seseorang yang mulai membuatku nyaman, pikiranku langsung bertanya, “Bagaimana kalau masih ada yang lebih cocok?” Dulu aku mengira itu tanda bahwa aku selektif. Sekarang aku sadar, mungkin aku hanya takut memilih.
Ketika Banyak Pilihan Membuatku Sulit Yakin
Semakin banyak orang yang kukenal, semakin sulit aku membangun kedekatan yang mendalam. Aku sering berhenti di tahap awal: saling bertanya hobi, pekerjaan, makanan favorit, lalu perlahan menghilang. Anehnya, aku tidak benar-benar kecewa ketika percakapan berakhir, karena selalu ada percakapan lain yang menunggu. Masalahnya bukan tidak ada orang baik. Justru terlalu banyak orang yang terlihat baik.
Aku pernah dekat dengan seseorang yang perhatian, konsisten, dan tulus. Kami sering video call, bertukar cerita, bahkan mulai membicarakan kemungkinan hubungan serius. Tetapi di saat hubungan itu mulai terasa nyata, aku malah gelisah. Aku takut kehilangan kebebasan untuk mengenal orang lain. Aku takut salah pilih.
Akhirnya aku menjauh. Bukan karena dia kurang, tetapi karena pikiranku dipenuhi kemungkinan-kemungkinan lain yang belum tentu lebih baik. Setelah itu aku mengulang pola yang sama berkali-kali.
Aku Kehilangan Kemampuan untuk Benar-Benar Hadir
Hal yang paling menyedihkan adalah aku mulai menyadari bahwa aku tidak lagi menikmati proses mengenal seseorang. Aku lebih sibuk membandingkan daripada memahami. Setiap orang terasa seperti opsi, bukan manusia dengan perasaan.
Dating apps memberiku ilusi bahwa selalu ada pilihan berikutnya. Padahal, semakin sering aku berpindah, semakin sulit aku membangun keterikatan yang nyata. Aku menjadi mudah bosan, mudah ragu, dan sulit percaya bahwa satu orang bisa cukup.
Suatu malam aku membuka kembali semua percakapan lama. Ada banyak nama, banyak candaan, banyak awal yang menjanjikan. Namun hampir tidak ada yang benar-benar bertahan. Di situlah aku sadar: aku tidak kekurangan pilihan, aku kekurangan keberanian untuk berkomitmen.
Dating apps tidak sepenuhnya salah. Yang berbahaya adalah ketika aku membiarkan banyaknya pilihan membuatku terus mencari yang "lebih sempurna" hingga lupa bahwa hubungan tidak dibangun dari swipe tanpa akhir, melainkan dari keputusan untuk berhenti membandingkan dan mulai benar-benar hadir untuk satu orang.