Menulis di Beritacinta, saya berbagi cerita, tips, dan inspirasi seputar cinta dan hubungan. Semoga tulisan-tulisan di sini bisa menemani dan memberi warna di perjalanan cinta kamu.
0
Broken home dapat meninggalkan pengalaman emosional yang berbeda pada setiap anak. Bagi sebagian orang, tumbuh di tengah pertengkaran, pengkhianatan, dan perceraian membuat gambaran tentang cinta yang tersimpan di kepala lebih banyak berisi luka daripada kebahagiaan. Pengakuan ini menggambarkan bagaimana pengalaman tersebut dapat memengaruhi cara seseorang menerima cinta ketika dewasa.
“Aku sering bertanya-tanya, kenapa setiap ada orang yang mencintaiku dengan tulus, aku justru sulit menghargainya?” Pertanyaan itu terus muncul setelah aku menyadari bahwa caraku menjalani hubungan ternyata banyak dipengaruhi oleh keluarga tempatku tumbuh. Sejak kecil, aku tidak terlalu mengenal hubungan yang tenang. Yang lebih sering kulihat adalah pertengkaran, suara keras, saling menyalahkan, hingga pengkhianatan yang akhirnya membuat keluargaku tidak lagi utuh.
Dulu aku mengira semua keluarga memang seperti itu. Aku mengira cinta memang selalu datang bersama pertengkaran, kebohongan, rasa kecewa, dan kemungkinan seseorang pergi meninggalkan kita. Aku tumbuh dengan pemikiran bahwa jangan terlalu percaya kepada seseorang karena pada akhirnya orang yang paling kita sayangi pun bisa menyakiti.
Aku Terbiasa Menganggap Cinta Harus Penuh Drama
Ketika mulai mengenal hubungan romantis, aku membawa pemikiran itu tanpa menyadarinya. Aku pernah mendapatkan seseorang yang benar-benar memperlakukanku dengan baik. Dia tidak suka berbohong, tidak membuatku menebak-nebak perasaannya, dan selalu berusaha menyelesaikan masalah dengan komunikasi.
Anehnya, aku justru merasa ada yang kurang. Hubungan itu terlalu tenang. Tidak ada pertengkaran besar, tidak ada permainan perasaan, bahkan tidak ada rasa takut kehilangan yang berlebihan. Aku sempat menganggapnya tidak benar-benar mencintaiku karena dia tidak menunjukkan cinta dengan cara yang selama ini kukenal.
Baru kemudian aku menyadari sesuatu yang menyakitkan. Mungkin selama ini aku bukan tidak membutuhkan cinta tulus. Aku hanya tidak terbiasa menerimanya. Di dalam pikiranku, cinta sudah terlalu lama dikaitkan dengan rasa sakit. Ketika seseorang memberikan kasih sayang tanpa syarat, bagian dalam diriku justru merasa asing dan curiga.
Aku Tidak Ingin Masa Lalu Menentukan Cara Aku Mencintai
Aku mulai memahami bahwa orang yang ada di hadapanku bukanlah orang-orang yang pernah membuat keluargaku terluka. Dia tidak seharusnya menerima kemarahan atas kesalahan orang lain. Dia juga tidak seharusnya terus membuktikan bahwa dirinya berbeda hanya karena aku pernah melihat hubungan yang gagal. Aku sadar, jika terus membawa pemikiran tersebut, aku mungkin akan kehilangan orang baik hanya karena cinta yang sehat terasa terlalu asing bagiku.
Pengalaman keluarga memang membentuk cara seseorang melihat hubungan, tetapi bukan berarti masa lalu harus menjadi akhir dari semuanya. Sekarang aku sedang belajar bahwa cinta tidak harus membuatku takut setiap hari. Cinta tidak harus dipenuhi pertengkaran agar terasa nyata. Dan seseorang tidak harus menyakitiku terlebih dahulu untuk membuktikan bahwa perasaannya benar.
Mungkin aku masih belajar menghargai cinta tulus. Namun setidaknya sekarang aku tahu bahwa cinta yang sehat bukan sesuatu yang harus kutakuti hanya karena dulu aku pernah melihat cinta berakhir dengan perceraian.