Ambar Arum Putri Hapsari
mahasiswa Universitas STEKOM, BERITA CINTAMenulis di Beritacinta, saya berbagi cerita, tips, dan inspirasi seputar cinta dan hubungan. Semoga tulisan-tulisan di sini bisa menemani dan memberi warna di perjalanan cinta kamu.
Istilah kata gaul internalized guilt adalah kondisi emosional yang sering tidak disadari dan merupakan rasa bersalah yang tertanam saat seseorang mencintai. Perasaan ini ialah konflik batin yang membuat cinta terasa seperti kesalahan bukan kebahagiaan. Banyak orang tetap bertahan dalam hubungan sambil terus menyalahkan diri sendiri seolah rasa sayang yang muncul harus ditebus dengan penderitaan.
Internalized guilt biasanya tidak muncul begitu saja. Ia terbentuk dari lingkungan keluarga norma sosial atau pengalaman lama yang mengajarkan bahwa mencintai bisa berujung salah. Saat perasaan datang alih alih merasa utuh seseorang justru merasa tidak pantas takut melukai orang lain atau takut dianggap egois karena memilih bahagia.
Dalam hubungan rasa bersalah ini sering muncul dalam bentuk overthinking. Seseorang terus mempertanyakan apakah perasaannya wajar apakah ia terlalu menuntut atau bahkan apakah ia berhak bahagia. Akibatnya hubungan dijalani dengan penuh kecemasan bukan ketenangan.
Internalized guilt juga membuat seseorang sulit menerima cinta dari pasangan. Ketika diperlakukan baik justru muncul perasaan tidak enak seolah perhatian itu berlebihan. Ada ketakutan tersembunyi bahwa suatu hari cinta ini akan dibalas dengan konsekuensi yang menyakitkan.
Pada banyak kasus rasa bersalah ini berasal dari ajaran lama. Misalnya keyakinan bahwa cinta harus penuh pengorbanan atau bahwa kebahagiaan pribadi adalah bentuk keegoisan. Tanpa sadar seseorang membawa nilai itu ke hubungan dewasa dan menjadikannya beban emosional.
Masalahnya internalized guilt sering membuat hubungan jadi timpang. Satu pihak terus mengalah merasa tidak enak dan menekan kebutuhan sendiri. Dalam jangka panjang hal ini bisa memicu kelelahan emosional bahkan rasa kehilangan jati diri.
Menghadapi internalized guilt butuh keberanian untuk jujur pada diri sendiri. Menyadari bahwa mencintai bukan dosa dan bahagia bukan kesalahan adalah langkah awal. Rasa bersalah tidak selalu berarti salah kadang itu hanya warisan emosi yang belum disembuhkan.
Komunikasi dengan pasangan juga penting. Membagikan perasaan bersalah yang sering muncul bisa membuka ruang empati. Pasangan yang tepat tidak akan memanfaatkan rasa bersalah itu melainkan membantu menciptakan rasa aman.
Mencintai dengan sehat berarti memberi izin pada diri sendiri untuk bahagia tanpa takut dihukum oleh perasaan sendiri. Internalized guilt bisa dilepaskan perlahan dengan refleksi dan penerimaan. Karena cinta yang tulus seharusnya menguatkan bukan membuat seseorang terus merasa bersalah atas perasaannya sendiri.