Menulis di Beritacinta, saya berbagi cerita, tips, dan inspirasi seputar cinta dan hubungan. Semoga tulisan-tulisan di sini bisa menemani dan memberi warna di perjalanan cinta kamu.
0
Kadang cinta membuat seseorang melakukan hal-hal yang dulu terasa mustahil. Bukan karena ingin memberontak, tetapi karena takut kehilangan orang yang dianggap paling penting.
Dulu aku adalah tipe orang yang selalu patuh pada aturan. Orang tuaku cukup ketat, terutama soal jam malam, pergaulan, dan prioritas sekolah. Aku juga bukan tipe yang suka membantah. Buatku, aturan ada untuk dijaga.
Sampai aku jatuh cinta, awalnya semuanya terasa biasa. Kami saling mendukung, saling memberi kabar, dan hubungan itu terasa hangat. Tapi semakin lama, ada banyak permintaan kecil yang mulai muncul.
“Temenin aku malam ini, bentar aja.”
“Bisa kan bohong bilang lagi sama teman?”
“Kalau sayang, pasti mau.”
Kalimat-kalimat itu terdengar sederhana. Dan entah kenapa, waktu itu aku menganggapnya sebagai bagian dari perjuangan cinta.
Aku mulai sering pulang lebih malam tanpa izin. Pernah bolos satu kelas hanya untuk menemaninya saat ada masalah. Bahkan beberapa kali aku berbohong ke orang tua hanya supaya bisa tetap bertemu, waktu itu aku pikir, ini wajar karena aku sayang.
Semakin Banyak yang Dilanggar, Semakin Aku Kehilangan Diriku
Awalnya aku merasa semua pengorbanan itu membuat hubungan kami semakin kuat. Tapi ternyata tidak, semakin aku rela melanggar aturan, semakin banyak hal baru yang diminta seolah batas yang dulu kupunya perlahan menghilang.
Aku mulai sering cemas, takut ketahuan, dan merasa bersalah, yang lebih berat aku mulai kehilangan fokus pada diriku sendiri. Nilai sekolah menurun, hubungan dengan keluarga jadi renggang, dan aku lebih sibuk menjaga hubungan itu daripada menjaga hidupku sendiri.
Saat itu aku baru sadar, cinta yang sehat seharusnya tidak membuatku terus merasa tertekan tapi saat itu aku terlalu takut kehilangan untuk berhenti.
Aku Belajar Bahwa Tidak Semua Pengorbanan Itu Bukti Cinta
Hubungan itu akhirnya selesai. Dan setelah semuanya berakhir, yang paling menyakitkan bukan hanya kehilangan dia, tapi menyadari betapa banyak prinsip yang sudah kulepas demi seseorang yang ternyata tidak tinggal.
Dari situ aku belajar satu hal penting, cinta memang butuh pengorbanan, tapi bukan sampai membuat kita melanggar batas yang menjaga hidup kita tetap utuh.
Sekarang aku paham, pasangan yang benar-benar mencintai tidak akan membuat kita memilih antara cinta dan tanggung jawab, karena cinta yang sehat tidak memaksa kita kehilangan arah dan kadang, pelajaran terbesar dari sebuah hubungan adalah menyadari bahwa menjaga diri sendiri juga bentuk cinta.