Ambar Arum Putri Hapsari
mahasiswa Universitas STEKOM, BERITA CINTAMenulis di Beritacinta, saya berbagi cerita, tips, dan inspirasi seputar cinta dan hubungan. Semoga tulisan-tulisan di sini bisa menemani dan memberi warna di perjalanan cinta kamu.
Kita tinggal di kota yang sama.
Langit yang sama. Hujan yang sama. Bahkan mungkin kopi favorit kita cuma beda jarak beberapa meter.
Tapi anehnya, kita tidak pernah benar-benar bertemu.
Kita tahu nama satu sama lain. Tahu lingkaran pertemanan yang kadang saling bersinggungan. Pernah hampir datang ke acara yang sama. Pernah hampir nongkrong di tempat yang sama. Tapi selalu ada satu hal kecil yang membuat waktu kita meleset beberapa menit.
Seolah semesta sengaja menahan.
Katanya dunia ini sempit. Tapi ketika menyangkut satu orang tertentu, satu kota bisa terasa sangat luas.
Kita sering membayangkan skenario sederhana. Tidak perlu dramatis. Cukup tidak sengaja duduk di meja yang sama. Tidak sengaja berdiri dalam antrean yang sama. Tidak sengaja saling menatap dan merasa familiar.
Namun, waktu terus berjalan tanpa kejadian itu.
Dalam psikologi, ada konsep yang sering disebut serendipity, momen kebetulan bermakna yang terasa seperti takdir kecil. Namun, tidak semua cerita mendapatkan momennya di waktu yang kita inginkan.
Mungkin bukan semesta yang menolak. Mungkin waktunya saja yang belum sejajar.
Kadang kita menyalahkan jarak. Kadang menyalahkan keadaan. Padahal bisa jadi yang kurang bukan pertemuan, tapi keberanian.
Kita tahu dia ada. Kita tahu lokasinya bukan mustahil. Tapi kita menunggu takdir bekerja tanpa pernah menggerakkan langkah.
Lucunya, kita lebih nyaman menyebutnya belum jodoh daripada mengakui belum mencoba.
Di sisi lain, ada juga yang memang harus lewat begitu saja. Beberapa orang ditakdirkan hanya menjadi kemungkinan. Bukan kenyataan.
Mereka hadir sebagai bayangan indah. Sebagai what-if yang diam-diam kita simpan.
Dan mungkin, memang ada cerita yang tidak ditulis untuk terjadi. Hanya untuk dirasakan.
Padahal se kota. Tapi tidak pernah benar-benar saling menemukan.
Apakah itu kebetulan yang terlewat
Atau perlindungan yang belum kita pahami
Kadang hidup bukan soal siapa yang paling dekat jaraknya. Tapi siapa yang paling tepat waktunya?
Dan kalau suatu hari akhirnya benar benar bertemu, mungkin kita akan tersenyum dan bilang
Ternyata bukan semesta-nya yang menahan. Kita saja yang belum siap berjalan ke arah yang sama.