Ambar Arum Putri Hapsari
mahasiswa Universitas STEKOM, BERITA CINTAMenulis di Beritacinta, saya berbagi cerita, tips, dan inspirasi seputar cinta dan hubungan. Semoga tulisan-tulisan di sini bisa menemani dan memberi warna di perjalanan cinta kamu.
Belakangan, istilah open marriage makin sering muncul di media sosial.
Ada yang menganggap ini modern dan jujur.
Ada juga yang langsung menilai bahwa ini bentuk ketidaksetiaan yang dibungkus kesepakatan.
Sebelum buru-buru menghakimi, ada beberapa hal penting yang perlu dipahami.
Open marriage adalah bentuk pernikahan di mana kedua pasangan sepakat untuk membuka kemungkinan hubungan romantis atau seksual dengan orang lain, di luar pernikahan.
Kuncinya ada pada kata sepakat.
Bukan selingkuh diam diam.
Bukan pengkhianatan rahasia.
Semua dilakukan dengan persetujuan dan komunikasi terbuka.
Alasannya beragam.
Beberapa pasangan merasa kebutuhan emosional atau seksual mereka tidak bisa dipenuhi oleh satu orang saja.
Ada juga yang percaya bahwa kejujuran lebih penting daripada kepemilikan eksklusif.
Dalam konteks budaya tertentu, konsep ini dianggap bagian dari kebebasan individu.
Namun, penting diingat, ini bukan pilihan umum dan tidak cocok untuk semua orang.
Secara teori, terlihat dewasa dan terbuka.
Tapi praktiknya tidak sesederhana itu.
Rasa cemburu tetap bisa muncul.
Rasa tidak aman bisa berkembang.
Ikatan emosional dengan pihak ketiga bisa mengubah dinamika pernikahan.
Tanpa komunikasi yang sangat matang dan batasan yang jelas, open marriage bisa berujung pada konflik besar.
Belum lagi faktor sosial dan budaya. Tidak semua lingkungan menerima konsep ini.
Perbedaan utamanya ada pada transparansi.
Selingkuh dilakukan diam-diam dan melanggar komitmen.
Open marriage dilakukan dengan persetujuan kedua pihak.
Namun tetap saja, secara emosional, dampaknya bisa kompleks.
Tidak semua orang siap melihat pasangannya terlibat dengan orang lain, meski sudah sepakat di awal.
Open marriage bukan solusi instan untuk menyelamatkan pernikahan yang bermasalah.
Kalau komunikasi sudah rusak atau kepercayaan sudah retak, membuka hubungan justru bisa memperparah.
Konsep ini hanya mungkin berjalan pada pasangan yang memiliki kedewasaan emosional tinggi, komunikasi terbuka, dan batasan yang sangat jelas.
Pada akhirnya, setiap hubungan punya nilai dan prinsip masing-masing.
Yang penting bukan mengikuti tren, tapi memahami apakah pilihan tersebut benar-benar sesuai dengan kebutuhan, keyakinan, dan kesiapan emosional.
Pernikahan bukan hanya soal kebebasan.
Tapi juga soal tanggung jawab dan konsekuensi.