Ambar Arum Putri Hapsari
mahasiswa Universitas STEKOM, BERITA CINTAMenulis di Beritacinta, saya berbagi cerita, tips, dan inspirasi seputar cinta dan hubungan. Semoga tulisan-tulisan di sini bisa menemani dan memberi warna di perjalanan cinta kamu.
Bulan Ramadhan bukan hanya soal menahan lapar dan haus, tetapi juga memperbaiki perilaku dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dalam Islam, puasa diwajibkan untuk meningkatkan ketakwaan serta menahan seluruh anggota tubuh dari perbuatan yang bisa mengurangi pahala ibadah.
Pertanyaan soal pacaran selama Ramadhan sering muncul terutama di kalangan muda. Karena budaya pacaran modern berbeda dengan konsep hubungan yang diajarkan dalam Islam, penting untuk memahami apa yang dibolehkan dan apa yang perlu dihindari.
Secara teknis, pacaran itu sendiri tidak membatalkan puasa selama aktivitas itu tidak melibatkan hal-hal yang membatalkan puasa seperti makan, minum, atau hubungan intim di siang hari. Jadi secara formal puasa tetap sah.
Namun, Islam tidak mengenal konsep “pacaran” seperti budaya modern yang umum ada sekarang. Dalam ajaran Islam, interaksi antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram harus dijaga batasannya. Nabi Muhammad SAW bersabda bahwa seorang laki-laki tidak boleh berduaan dengan wanita bukan mahram tanpa ada orang ketiga.
Selain itu, melakukan tindakan seperti berpegangan tangan, tatap mata terlalu lama dengan syahwat, atau menutup ruang yang bisa menimbulkan syahwat termasuk perilaku yang sebaiknya dihindari.
Majelis Ulama Indonesia (MUI) menjelaskan bahwa puasa tetap sah meskipun seseorang berpacaran selama Ramadhan. Namun, perilaku ini tetap berpotensi mengurangi pahala puasa jika menyangkut perbuatan yang mendekatkan diri pada dosa atau maksiat.
Ulama salaf juga menegaskan bahwa puasa yang tidak mampu menahan pelakunya dari hal-hal yang haram atau godaan hanya merupakan puasa yang “kurang sempurna.” Selama Ramadhan, maksiat cenderung berdosa lebih berat karena waktu yang dimuliakan.
Pacaran sering kali melibatkan fokus pada hubungan daripada ibadah. Hal ini bisa mengurangi kekhusyukan dalam shalat, dzikir, dan kegiatan spiritual lain di bulan Ramadhan yang seharusnya penuh berkah.
Selain itu, perbuatan yang dapat menyebabkan rangsangan syahwat atau dorongan untuk melanggar batasan syariat dapat mengurangi pahala dan bahkan memicu dosa.
Sebagai umat Islam, menjalani Ramadhan dengan menjaga adab dan etika bukan sekadar tentang menahan lapar, tetapi juga menahan hawa nafsu, ucapan, dan tindakan yang bisa menggugurkan pahala puasa.