Ambar Arum Putri Hapsari
mahasiswa Universitas STEKOM, BERITA CINTAMenulis di Beritacinta, saya berbagi cerita, tips, dan inspirasi seputar cinta dan hubungan. Semoga tulisan-tulisan di sini bisa menemani dan memberi warna di perjalanan cinta kamu.
Kamu lagi sayang-sayangnya, tiba-tiba muncul kabar yang bikin dada sesak. Dia dijodohkan. Bukan sekadar kenalan, tapi sudah diatur. Kamu mulai mempertanyakan semuanya. Posisimu di mana? Kamu ini siapa dalam hidupmu?
Situasi seperti ini bukan cuma soal cinta. Ini adalah benturan antara perasaan dan realita. Antara pilihan pribadi dan tekanan dari luar. Dan jujur saja, tidak semua orang cukup kuat untuk berdiri di tengah konflik seperti ini.
Yang sering terjadi, kamu jadi pihak yang paling terluka tanpa benar-benar punya kuasa.
Kalau dia bilang dijodohkan, pertanyaan pentingnya bukan cuma siapa cewe itu. Tapi bagaimana sikap dia terhadap situasi ini? Karena di titik ini, pilihan tetap ada di tangannya.
Kalau dia benar-benar ingin bertahan sama kamu, dia akan menunjukkan sikap. Entah menolak, melawan, atau setidaknya memperjuangkan. Tapi kalau dia terlihat pasif, bingung, atau malah mengikuti alur, itu juga bentuk jawaban.
Jangan terjebak pada alasan tidak enak sama keluarga atau takut mengecewakan orang tua. Itu valid, tapi tidak bisa dijadikan pembenaran untuk menggantung perasaanmu.
Kamu berhak mendapatkan kepastian. Bukan jadi opsi cadangan saat dia belum berani mengambil keputusan.
Dampak ke diri kamu dan pilihan yang harus diambil
Berada di posisi ini bisa menguras mental. Kamu jadi overthinking, merasa tidak cukup, bahkan mulai membandingkan diri dengan orang yang dijodohkan dengannya. Padahal, ini bukan soal siapa yang lebih baik.
Kalau kamu terus bertahan tanpa kejelasan, kamu hanya memperpanjang luka. Kamu menaruh harapan pada seseorang yang belum tentu berani memperjuangkanmu. Dan semakin lama kamu bertahan, semakin sulit untuk keluar.
Bukan berarti kamu harus langsung pergi tanpa bicara. Tapi kamu perlu tegas. Tanyakan arah hubungan ini. Minta kejelasan. Dan yang paling penting, lihat tindakan, bukan sekadar kata.
Kalau dia memilih keluarganya tanpa berusaha memperjuangkanmu, itu hak dia. Tapi kamu juga punya hak untuk tidak menunggu di tempat yang tidak pasti.
Untuk kamu yang sedang ada di posisi ini, rasa sakitnya memang tidak ringan. Tapi ingat, cinta tidak seharusnya membuatmu merasa jadi pilihan kedua.
Kamu bukan pelengkap. Kamu bukan cadangan. Kamu adalah seseorang yang layak diperjuangkan, bukan ditinggalkan karena keadaan.
Kalau dia tidak bisa memilihmu dengan jelas, mungkin itu tanda bahwa kamu harus mulai memilih dirimu sendiri.