
Menulis di Beritacinta, saya berbagi cerita, tips, dan inspirasi seputar cinta dan hubungan. Semoga tulisan-tulisan di sini bisa menemani dan memberi warna di perjalanan cinta kamu.
Emotional Self Guarding adalah kondisi ketika seseorang menjaga hatinya terlalu ketat akibat pengalaman menyakitkan di masa lalu. Sikap ini merupakan bentuk perlindungan diri agar tidak kembali terluka. Emotional Self Guarding ialah keadaan saat seseorang ingin mencintai, namun rasa takut membuatnya membangun tembok yang tinggi di sekeliling perasaannya.
Trauma dari hubungan sebelumnya sering menjadi pemicu utama. Pengkhianatan, ditinggalkan secara tiba tiba, atau kekecewaan mendalam meninggalkan bekas yang sulit hilang. Luka tersebut membuat seseorang lebih waspada terhadap kedekatan emosional.
Dalam Emotional Self Guarding, seseorang cenderung membatasi keterbukaan. Ia mungkin terlihat ramah dan dekat secara fisik, tetapi enggan membagikan perasaan terdalamnya. Ada jarak tak kasat mata yang sengaja diciptakan.
Perlindungan ini sebenarnya wajar. Setiap orang ingin merasa aman. Namun ketika penjagaan dilakukan terlalu ketat, hubungan menjadi sulit berkembang. Pasangan bisa merasa tidak dipercaya atau tidak diberi ruang untuk benar benar mengenal.
Seseorang yang mengalami Emotional Self Guarding sering kali sulit sepenuhnya percaya. Ia terus mencari tanda bahaya meski situasi terlihat baik baik saja. Pikiran dipenuhi kekhawatiran akan kemungkinan terburuk.
Akibatnya, kedekatan emosional terhambat. Hubungan terasa berjalan lambat atau bahkan stagnan. Bukan karena tidak ada rasa, melainkan karena rasa itu dikurung rapat.
Di sisi lain, menjaga hati secara berlebihan juga melelahkan. Terus menerus waspada menguras energi mental. Seseorang mungkin merasa aman, tetapi juga kesepian karena tidak benar benar membuka diri.
Untuk mengurangi Emotional Self Guarding, proses penyembuhan menjadi langkah penting. Mengakui bahwa trauma masih memengaruhi sikap adalah awal yang baik. Tidak perlu memaksa diri langsung terbuka, tetapi perlahan belajar percaya kembali.
Komunikasi jujur dengan pasangan juga dapat membantu. Menjelaskan bahwa ada pengalaman masa lalu yang membuat diri lebih berhati hati akan menciptakan pemahaman. Pasangan yang tepat biasanya bersedia bersabar.
Emotional Self Guarding mengajarkan bahwa melindungi hati itu penting, tetapi keseimbangan juga diperlukan. Terlalu tertutup membuat cinta sulit masuk, sementara terlalu terbuka tanpa batas juga berisiko.
Pada akhirnya, keberanian untuk membuka sedikit demi sedikit pintu hati adalah bagian dari proses tumbuh. Dengan kesadaran dan dukungan yang tepat, seseorang dapat belajar mencintai tanpa harus terus menerus hidup dalam bayang bayang trauma.