Ambar Arum Putri Hapsari
mahasiswa Universitas STEKOM, BERITA CINTAMenulis di Beritacinta, saya berbagi cerita, tips, dan inspirasi seputar cinta dan hubungan. Semoga tulisan-tulisan di sini bisa menemani dan memberi warna di perjalanan cinta kamu.
Di era modern, masih sering kita temui cara pandang yang secara tidak langsung memperlakukan wanita seperti “barang”—dinilai dari penampilan, status, atau bahkan materi yang bisa “ditukar”.
Kalimat seperti “harus cantik”, “harus begini”, atau “harus begitu” seakan menjadikan wanita sebagai objek yang harus memenuhi standar tertentu. Padahal, wanita adalah individu utuh yang memiliki hak, pilihan, dan nilai diri.
Wanita bukan sesuatu yang bisa:
Menganggap wanita sebagai objek hanya akan merendahkan nilai kemanusiaan itu sendiri.
Komentar seperti “kurang cantik”, “tidak sesuai standar”, atau membandingkan fisik adalah bentuk objektifikasi.
Menganggap wanita bisa “didapatkan” dengan uang atau fasilitas adalah pola pikir yang keliru.
Memaksakan standar tentang:
Ini adalah bentuk tidak menghargai kebebasan individu.
Wanita harus dilihat dari karakter, nilai, dan kepribadiannya, bukan hanya dari tampilan luar.
Hubungan yang sehat adalah hubungan yang saling menghargai, bukan yang bersifat “memiliki”.
Setiap wanita berhak menentukan jalan hidupnya tanpa tekanan atau penilaian berlebihan.
Selain dari luar, wanita juga perlu:
Self-worth yang kuat akan membantu mencegah perlakuan tidak adil.
Wanita bukan barang dagangan yang bisa dinilai, dibandingkan, atau “dibeli”. Mereka adalah individu yang memiliki nilai, hak, dan kebebasan untuk menentukan hidup mereka sendiri.
Menghargai wanita bukan hanya soal sikap terhadap orang lain, tapi juga tentang membangun masyarakat yang lebih adil dan manusiawi.