Ambar Arum Putri Hapsari
mahasiswa Universitas STEKOM, BERITA CINTAMenulis di Beritacinta, saya berbagi cerita, tips, dan inspirasi seputar cinta dan hubungan. Semoga tulisan-tulisan di sini bisa menemani dan memberi warna di perjalanan cinta kamu.
Banyak orang bangga bisa terlihat tenang.
Tidak marah.
Tidak mengeluh.
Tidak menunjukkan kesedihan.
Tapi di balik sikap “kuat” itu, ada emosi yang terus ditekan.
Sering menahan emosi bukan selalu tanda kedewasaan. Jika dilakukan terus-menerus, justru bisa berdampak pada kesehatan mental dan fisik.
Emosi sebenarnya adalah respons alami tubuh terhadap situasi tertentu. Saat marah, sedih, atau kecewa, tubuh memproduksi hormon stres seperti kortisol.
Jika emosi itu diakui dan diproses, tubuh akan kembali stabil.
Namun, jika ditekan berulang kali, tubuh tetap berada dalam kondisi siaga. Dalam jangka panjang, ini bisa memicu stres kronis.
Menahan emosi terlalu lama dapat meningkatkan risiko
Banyak orang yang terlihat sabar, tapi tiba-tiba meledak karena emosi yang selama ini dipendam akhirnya penuh.
Tubuh dan pikiran saling terhubung.
Stres yang terus dipendam bisa memicu
Menurut konsep stres dalam dunia medis yang pertama kali dipopulerkan oleh Hans Selye, tubuh yang terus berada dalam fase stres akan mengalami kelelahan sistemik.
Artinya, tubuh bisa melemah perlahan tanpa disadari.
Beberapa alasan umum
Takut dianggap lemah
Tidak ingin menambah masalah
Tidak terbiasa mengekspresikan perasaan
Lingkungan yang tidak suportif
Sayangnya, memendam bukan solusi jangka panjang.
Mengelola emosi bukan berarti meluapkan semuanya tanpa kontrol. Tapi juga bukan memendam sampai meledak.
Beberapa langkah sehat
Jika emosi terasa terlalu berat, bantuan profesional juga bisa menjadi pilihan bijak.
Menahan emosi sesekali itu wajar.
Tapi jika menjadi kebiasaan, tubuh dan pikiran bisa membayar harganya.
Karena menjadi dewasa bukan tentang tidak merasakan apa-apa.
Melainkan tentang berani merasakan dan mengelolanya dengan sehat.