Ambar Arum Putri Hapsari
mahasiswa Universitas STEKOM, BERITA CINTAMenulis di Beritacinta, saya berbagi cerita, tips, dan inspirasi seputar cinta dan hubungan. Semoga tulisan-tulisan di sini bisa menemani dan memberi warna di perjalanan cinta kamu.
Nyaman tapi nyakitin adalah istilah yang sering muncul dalam obrolan soal relasi masa kini. Kondisi ini merupakan gambaran hubungan yang membuat seseorang betah secara emosional namun sekaligus lelah secara mental. Perasaan nyaman itu ialah hasil dari kebiasaan kedekatan sementara rasa sakit muncul karena kebutuhan emosional tidak sepenuhnya terpenuhi.
Banyak orang bertahan dalam hubungan seperti ini karena takut kehilangan rasa aman. Meski sering kecewa mereka memilih diam karena kenyamanan terasa lebih mudah dibanding harus memulai ulang. Situasi ini membuat seseorang berada di antara dua perasaan yang saling bertentangan.
Istilah kata gaul nyaman tapi nyakitin menggambarkan hubungan yang tidak sepenuhnya sehat namun sulit dilepaskan. Ada tawa kebersamaan dan rutinitas yang terasa akrab tetapi di balik itu tersimpan rasa capek yang terus dipendam.
Hubungan ini biasanya tidak dipenuhi konflik besar namun ada kekosongan emosional yang perlahan menggerogoti. Pasangan mungkin hadir secara fisik tetapi kurang hadir secara perasaan. Hal inilah yang membuat nyaman tapi nyakitin terasa membingungkan.
Salah satu ciri utama kondisi ini adalah perasaan bersalah saat ingin pergi. Seseorang merasa tidak punya alasan kuat untuk mengakhiri hubungan padahal hatinya sudah lelah. Akhirnya rasa tidak bahagia dinormalisasi demi mempertahankan stabilitas semu.
Nyaman tapi nyakitin juga sering muncul karena komunikasi yang tidak jujur. Perasaan tidak disampaikan dengan jelas demi menjaga suasana tetap baik. Namun emosi yang ditekan akan mencari jalan keluar dan biasanya muncul dalam bentuk kelelahan batin.
Dampak jangka panjang dari hubungan ini cukup serius. Seseorang bisa kehilangan kepekaan terhadap kebutuhannya sendiri. Standar kebahagiaan menurun dan rasa pantas untuk dicintai perlahan memudar.
Menyadari berada dalam kondisi nyaman tapi nyakitin adalah langkah awal yang penting. Ini bukan tentang menyalahkan pasangan tetapi tentang jujur pada diri sendiri. Apakah hubungan ini memberi ruang untuk tumbuh atau hanya sekadar bertahan.
Keluar dari hubungan seperti ini membutuhkan keberanian. Melepaskan kenyamanan yang menyakitkan sering terasa lebih menakutkan daripada rasa sakit itu sendiri. Namun dengan mengambil jarak seseorang bisa kembali mendengarkan suara hatinya.
Nyaman seharusnya tidak datang bersama luka yang terus diabaikan. Hubungan yang sehat memberi rasa aman sekaligus ketenangan. Ketika capek lebih dominan daripada bahagia mungkin sudah waktunya mempertimbangkan pilihan baru demi kesehatan emosional.