Ambar Arum Putri Hapsari
mahasiswa Universitas STEKOM, BERITA CINTAMenulis di Beritacinta, saya berbagi cerita, tips, dan inspirasi seputar cinta dan hubungan. Semoga tulisan-tulisan di sini bisa menemani dan memberi warna di perjalanan cinta kamu.
Agape adalah salah satu konsep cinta dalam psikologi yang menggambarkan kasih sayang yang tulus, penuh kepedulian, dan mengutamakan kebaikan orang lain. Konsep ini sering dipahami sebagai bentuk cinta yang rela memberi tanpa banyak menuntut balasan. Namun, penting dipahami bahwa Agape bukan berarti mengorbankan diri tanpa batas atau membiarkan diri terus terluka demi mempertahankan hubungan.
Sayangnya, banyak orang salah mengartikan ketulusan.
Mereka berpikir, "Kalau aku benar-benar mencintainya, aku harus terus bertahan."
Padahal yang mereka pertahankan bukan lagi cinta, melainkan rasa takut kehilangan.
Ada pula yang berkata, "Namanya juga cinta, harus sabar."
Benar.
Tetapi sabar berbeda dengan membiarkan diri terus-menerus diperlakukan tidak layak.
Tidak sedikit orang yang mengatasnamakan cinta untuk membenarkan hubungan yang tidak sehat.
Pasangannya berbohong berkali-kali, tetap dimaafkan.
Dikhianati, tetap bertahan.
Direndahkan, dianggap sebagai ujian kesabaran.
Dimanipulasi secara emosional, tetapi tetap percaya bahwa suatu hari nanti pasangannya akan berubah.
Kalimat yang sering muncul adalah,
"Aku bertahan karena aku mencintainya."
Padahal, cinta yang sehat tidak meminta seseorang kehilangan rasa aman, harga diri, dan ketenangan hidupnya.
Agape memang mengajarkan kepedulian, empati, dan pengampunan. Namun, pengampunan tidak sama dengan memberikan kesempatan tanpa batas.
Ada perbedaan besar antara memberi kesempatan kepada orang yang sungguh-sungguh memperbaiki diri dan terus bertahan dan pada orang yang berulang kali menyakitimu tanpa rasa tanggung jawab.
Kalau setiap kali kamu terluka, pasanganmu hanya berkata, "Kalau kamu benar-benar sayang, kamu pasti memaafkan", mungkin yang sedang ia manfaatkan bukan cintamu, melainkan ketulusanmu.
Cinta yang dewasa selalu berjalan bersama rasa hormat.
Menghormati pasangan.
Menghormati hubungan.
Dan menghormati diri sendiri.
Sayangnya, banyak orang hanya mengingat dua yang pertama.
Mereka rela mengorbankan waktu, tenaga, impian, bahkan kesehatan mental demi mempertahankan seseorang yang tidak pernah melakukan pengorbanan yang sama.
Padahal, mencintai diri sendiri bukanlah kebalikan dari Agape.
Justru seseorang akan lebih mampu mencintai dengan sehat ketika ia tahu kapan harus memberi dan kapan harus berkata, "Cukup."
Menetapkan batasan bukan berarti egois.
Mengakhiri hubungan yang terus menyakitimu juga bukan berarti kamu gagal mencintai.
Terkadang, bentuk cinta terbesar kepada diri sendiri adalah berani meninggalkan hubungan yang terus mengikis nilai dirimu sedikit demi sedikit.
Pada akhirnya, Agape bukan berarti rela menjadi tempat seseorang melampiaskan luka, kemarahan, atau ketidakdewasaannya. Cinta yang tulus memang mengajarkan kesabaran, tetapi tidak pernah meminta seseorang hidup dalam penderitaan tanpa akhir. Sebab cinta yang sehat bukan hanya membuat orang lain merasa dicintai, tetapi juga membuatmu tetap merasa aman, dihargai, dan diperlakukan sebagai manusia yang memiliki nilai. Jika sebuah hubungan terus meminta pengorbanan tanpa pernah menghadirkan rasa hormat, mungkin yang perlu dipertahankan bukan lagi hubungan itu, melainkan dirimu sendiri.