Menulis di Beritacinta, saya berbagi cerita, tips, dan inspirasi seputar cinta dan hubungan. Semoga tulisan-tulisan di sini bisa menemani dan memberi warna di perjalanan cinta kamu.
0
Workaholic adalah istilah yang menggambarkan seseorang yang memiliki dorongan kuat untuk terus bekerja hingga pekerjaan menjadi bagian paling dominan dalam hidupnya. Dalam konteks patah hati, sebagian orang menunjukkan peningkatan produktivitas yang sangat tinggi setelah hubungan berakhir. Fenomena ini menarik perhatian karena tidak sedikit orang yang justru mencapai puncak karier setelah mengalami kehilangan dalam percintaan.
Tidak semua orang yang patah hati akan menjadi workaholic. Namun, fenomena ini cukup sering ditemukan sehingga memunculkan pertanyaan, mengapa seseorang yang sedang terluka justru terlihat semakin sibuk, produktif, bahkan berhasil mencapai kesuksesan dalam karier? Jawabannya tidak terletak pada patah hatinya, melainkan pada cara otak dan emosi manusia merespons kehilangan. Ketika sebuah hubungan berakhir, seseorang kehilangan tempat untuk mencurahkan perhatian, waktu, dan energi emosional. Kekosongan tersebut sering kali mencari "wadah" baru agar pikiran tetap memiliki tujuan. Bagi sebagian orang, pekerjaan menjadi wadah yang paling mudah diisi.
Otak Mencari Pengganti dari Kehilangan
Secara psikologis, hubungan romantis merupakan salah satu sumber keterikatan emosional terbesar. Ketika keterikatan itu hilang, otak berusaha menemukan aktivitas lain yang mampu memberikan rasa pencapaian, kontrol, dan kepuasan. Pekerjaan memiliki ketiga hal tersebut. Setiap target yang tercapai menghasilkan rasa berhasil. Setiap promosi, penghargaan, atau peningkatan kemampuan memberikan kepuasan yang sebelumnya mungkin diperoleh dari hubungan romantis.
Selain itu, bekerja juga memiliki struktur yang jelas. Ada jadwal, tujuan, tantangan, dan hasil yang dapat diukur. Hal ini berbeda dengan hubungan yang penuh ketidakpastian. Setelah mengalami pengkhianatan atau perpisahan, banyak orang merasa pekerjaan adalah satu-satunya hal yang masih bisa mereka kendalikan. Fenomena ini juga berkaitan dengan mekanisme pengalihan perhatian. Ketika pikiran dipenuhi tugas, rapat, atau target, ruang untuk terus mengingat mantan menjadi lebih sedikit. Akibatnya, seseorang tanpa sadar menghabiskan lebih banyak waktu untuk bekerja.
Rasa Ingin Membuktikan Diri Ikut Berperan
Alasan lain mengapa patah hati sering diikuti peningkatan produktivitas adalah munculnya kebutuhan untuk membangun kembali harga diri. Penolakan atau pengkhianatan dapat membuat seseorang mempertanyakan nilai dirinya. Sebagai respons, sebagian orang terdorong mencari pencapaian di bidang lain untuk membuktikan bahwa dirinya tetap berharga.
Karier menjadi pilihan karena hasilnya nyata dan dapat dilihat. Prestasi akademik, kenaikan jabatan, bisnis yang berkembang, atau penghasilan yang meningkat menjadi simbol bahwa hidup mereka tetap bergerak maju meskipun hubungan telah berakhir.
Inilah sebabnya fenomena ini cukup sering terjadi. Bukan karena patah hati secara otomatis membuat seseorang menjadi sukses, melainkan karena kehilangan dapat mengubah arah energi, perhatian, dan motivasi. Ketika seluruh energi emosional yang sebelumnya tertuju pada hubungan berpindah ke pekerjaan, produktivitas sering meningkat secara signifikan. Jika kondisi tersebut dikelola dengan baik, bukan tidak mungkin seseorang akhirnya dikenal sebagai sosok yang sangat berdedikasi terhadap pekerjaannya, bahkan hingga dianggap sebagai seorang workaholic.