Ambar Arum Putri Hapsari
mahasiswa Universitas STEKOM, BERITA CINTAMenulis di Beritacinta, saya berbagi cerita, tips, dan inspirasi seputar cinta dan hubungan. Semoga tulisan-tulisan di sini bisa menemani dan memberi warna di perjalanan cinta kamu.
Deketin boleh, tapi jangan langsung seruduk. Apalagi kalau baru kenal dua hari udah nanya, “Kapan kita ketemu?” atau tiba-tiba chat "Aku serius nih sama kamu." Eh, serius dari mana? Bio WhatsApp aja masih lirik lagu galau!
Banyak dari kita, terutama Gen Z dan milenial, sebenarnya pengen banget dideketin. Tapi bukan berarti semua bentuk pendekatan bisa diterima. Kalau caranya kelewat bar-bar, niat baik malah jadi ilfeel. Terus, kenapa sih banyak yang merasa risih kalau dideketin terlalu frontal?
PDKT yang enak itu biasanya ngikutin ritme—pelan tapi pasti. Saling kenal dulu, tukeran cerita, baru deh makin intens. Tapi kalau dia langsung tanya, “Kamu udah pernah pacaran belum?”, atau ngirim pesan tiap 3 menit, itu bukan perhatian. Itu overheat.
Orang yang terlalu buru-buru sering dianggap gak tulus. Kayak ngejar siapa aja yang bisa, bukan karena beneran tertarik secara personal. Padahal, pendekatan yang baik justru datang dari rasa nyaman dan rasa dihargai.
Semua orang berhak didekati, tapi semua juga berhak merasa nyaman. PDKT itu seni, bukan sprint. Kalau kamu pengen serius, jangan buru-buru. Dan kalau kamu yang dideketin, gak salah kok milih jaga jarak kalau caranya bikin gak enak.