Ambar Arum Putri Hapsari
mahasiswa Universitas STEKOM, BERITA CINTAMenulis di Beritacinta, saya berbagi cerita, tips, dan inspirasi seputar cinta dan hubungan. Semoga tulisan-tulisan di sini bisa menemani dan memberi warna di perjalanan cinta kamu.
Pola cinta adalah kecenderungan seseorang dalam memilih pasangan, membangun hubungan, dan merespons cinta berdasarkan pengalaman, keyakinan, serta pembelajaran yang dimilikinya. Banyak orang mengira setiap kisah cinta adalah awal yang benar-benar baru. Padahal, tanpa disadari, kita sering mengulang pola yang sama dengan orang yang berbeda.
Mungkin nama pasangannya berganti.
Wajahnya berbeda.
Pekerjaannya tidak sama.
Namun, ujung ceritanya terasa mirip.
Selalu jatuh hati pada orang yang sulit berkomitmen.
Selalu tertarik pada pasangan yang cuek.
Selalu menjadi pihak yang mengejar.
Atau selalu mengorbankan diri demi mempertahankan hubungan.
Kalau ini terus berulang, mungkin masalahnya bukan sekadar "belum ketemu orang yang tepat". Bisa jadi, ada pola yang tanpa sadar terus kamu bawa ke setiap hubungan.
Salah satu alasan mengapa pola cinta terus berulang adalah karena otak manusia cenderung menyukai sesuatu yang terasa familiar.
Bukan berarti familiar itu selalu baik.
Justru terkadang yang terasa akrab berasal dari pengalaman yang kurang sehat.
Misalnya, seseorang yang sejak lama terbiasa harus berjuang keras untuk mendapatkan perhatian mungkin tanpa sadar akan tertarik pada pasangan yang sulit didekati. Ketika akhirnya mendapatkan sedikit perhatian, ia merasa itu adalah cinta yang besar. Padahal, yang ia rasakan bisa saja hanyalah pengulangan dari pola lama.
Begitu juga dengan orang yang terbiasa menjadi "penyelamat". Ia terus memilih pasangan yang penuh masalah karena merasa dirinya dibutuhkan. Tanpa sadar, ia menghubungkan rasa dibutuhkan dengan rasa dicintai.
Ada pula yang selalu jatuh cinta pada orang yang memberikan perhatian luar biasa di awal, tetapi menghilang ketika hubungan mulai membutuhkan komitmen. Anehnya, ketika bertemu orang yang stabil, konsisten, dan dewasa, justru terasa membosankan.
Bukan karena hubungan yang sehat tidak menarik.
Tetapi karena hati sudah terbiasa menganggap drama sebagai tanda cinta.
Kabar baiknya, pola cinta bukan takdir.
Pola bisa berubah ketika kita mulai menyadarinya.
Cobalah melihat kembali hubungan-hubunganmu yang lalu.
Apakah ada kesamaan?
Apakah kamu selalu tertarik pada tipe orang yang sama?
Apakah konflik yang muncul selalu mirip?
Apakah alasan putusnya hampir selalu berulang?
Pertanyaan-pertanyaan ini bukan untuk menyalahkan diri sendiri, melainkan untuk memahami apa yang perlu diperbaiki.
Semakin kamu mengenali pola yang selama ini berulang, semakin mudah pula kamu membuat keputusan yang berbeda di masa depan.
Belajarlah memberi kesempatan kepada orang yang mungkin dulu tidak akan kamu pilih hanya karena ia tidak menghadirkan sensasi yang berlebihan. Kadang, hubungan yang paling sehat memang tidak datang dengan ledakan emosi, tetapi dengan rasa aman yang tumbuh perlahan.
Pada akhirnya, kita memang tidak selalu bisa mengendalikan kepada siapa rasa tertarik itu muncul. Namun, kita selalu bisa memilih apakah akan terus mengulang pola yang sama atau mulai membangun pola yang lebih sehat. Karena jatuh cinta mungkin terjadi tanpa direncanakan, tetapi mempertahankan pola yang terus menyakitimu adalah pilihan yang bisa diubah. Semakin kamu mengenal dirimu sendiri, semakin besar peluangmu menemukan hubungan yang tidak hanya terasa familiar, tetapi juga benar-benar menyehatkan.