Ambar Arum Putri Hapsari
mahasiswa Universitas STEKOM, BERITA CINTAMenulis di Beritacinta, saya berbagi cerita, tips, dan inspirasi seputar cinta dan hubungan. Semoga tulisan-tulisan di sini bisa menemani dan memberi warna di perjalanan cinta kamu.
Bahasa gaul ialah bagian dari dinamika komunikasi modern yang berkembang mengikuti kebutuhan sosial. Dalam kehidupan sehari hari, tidak semua situasi dapat diselesaikan dengan cara halus. Ada kondisi tertentu yang menuntut kejelasan agar tidak menimbulkan salah paham. Dari sinilah istilah istilah baru muncul untuk menggambarkan cara berkomunikasi yang berbeda. Salah satu istilah yang sering digunakan untuk menggambarkan penolakan secara lugas adalah hard rejection.
Hard rejection digunakan untuk menggambarkan penolakan tegas dan langsung tanpa menyisakan ruang harapan. Bentuk penolakan ini biasanya disampaikan dengan jelas dan eksplisit, sehingga penerima pesan memahami posisi yang sebenarnya. Hard rejection sering digunakan ketika seseorang ingin menjaga batasan atau menghentikan situasi yang tidak diinginkan.
Dalam konteks hubungan sosial dan asmara, hard rejection dianggap sebagai cara komunikasi yang jujur meskipun terasa kurang nyaman. Dengan menyampaikan penolakan secara langsung, kedua pihak dapat menghindari kebingungan dan harapan palsu. Meskipun berisiko melukai perasaan, kejelasan sering kali lebih sehat dalam jangka panjang.
Istilah hard rejection juga sering muncul sebagai kebalikan dari penolakan halus. Jika penolakan halus cenderung menghindari kata tegas, hard rejection justru mengedepankan kejujuran tanpa berputar putar. Hal ini menunjukkan perbedaan gaya komunikasi yang dipilih seseorang berdasarkan situasi dan kebutuhan emosionalnya.
Penggunaan hard rejection tidak selalu berarti sikap kasar. Penolakan tegas tetap bisa disampaikan dengan bahasa yang sopan dan empatik. Intinya terletak pada kejelasan pesan, bukan nada yang menyakitkan. Dengan cara ini, hard rejection dapat membantu menjaga batas pribadi tanpa menimbulkan konflik berkepanjangan.
Dalam dunia profesional, hard rejection sering digunakan dalam konteks keputusan kerja, seleksi, atau penolakan tawaran. Kejelasan menjadi penting agar pihak lain dapat segera mengambil langkah selanjutnya. Dalam hal ini, hard rejection justru dianggap sebagai bentuk profesionalisme dan penghargaan terhadap waktu.
Meskipun demikian, tidak semua orang nyaman menerima atau memberikan hard rejection. Budaya dan latar belakang emosional memengaruhi cara seseorang memandang penolakan langsung. Namun seiring meningkatnya kesadaran akan pentingnya komunikasi sehat, hard rejection mulai dipahami sebagai bagian dari ketegasan diri.
Pada akhirnya, hard rejection sebagai istilah gaul membantu menggambarkan gaya komunikasi yang lugas dan jelas. Istilah ini mengingatkan bahwa mengatakan tidak secara tegas bukanlah tindakan egois, melainkan bentuk kejujuran dan penghargaan terhadap diri sendiri serta orang lain.