Ambar Arum Putri Hapsari
mahasiswa Universitas STEKOM, BERITA CINTAMenulis di Beritacinta, saya berbagi cerita, tips, dan inspirasi seputar cinta dan hubungan. Semoga tulisan-tulisan di sini bisa menemani dan memberi warna di perjalanan cinta kamu.
Bahasa gaul merupakan cerminan pengalaman emosional yang banyak dialami dalam hubungan modern. Istilah istilah baru muncul untuk membantu menjelaskan perilaku yang terasa membingungkan namun sering terjadi. Dalam konteks asmara, bahasa gaul memberi nama pada pola sikap yang berulang dan berdampak besar pada perasaan pasangan. Salah satu istilah yang semakin sering dibahas adalah future faking, sebuah perilaku yang berkaitan dengan janji manis tentang masa depan.
Future faking digunakan untuk menggambarkan tindakan memberi janji masa depan palsu supaya pasangan tetap bertahan dalam hubungan. Janji tersebut bisa berupa rencana pernikahan, hidup bersama, atau masa depan bahagia yang terus diucapkan namun tidak pernah diwujudkan. Tujuan utamanya adalah membuat pasangan berharap dan menunda keputusan untuk pergi.
Perilaku future faking sering kali sulit dikenali pada awal hubungan. Janji yang terdengar indah dapat terasa tulus, apalagi jika disampaikan dengan emosi dan perhatian. Namun seiring waktu, pasangan mulai menyadari bahwa tidak ada langkah nyata yang dilakukan untuk mewujudkan rencana tersebut. Janji hanya berhenti sebagai kata kata tanpa aksi.
Dampak dari future faking cukup besar bagi kesehatan emosional. Pasangan yang terus diberi harapan palsu cenderung bertahan lebih lama dalam hubungan yang tidak sehat. Mereka menunggu perubahan yang tidak kunjung datang, sambil mengorbankan waktu, energi, dan perasaan. Rasa kecewa dan bingung pun menumpuk karena kenyataan tidak sesuai dengan harapan.
Istilah future faking menjadi populer karena banyak orang merasa relate dengan pengalaman tersebut. Media sosial dan diskusi hubungan membuka ruang berbagi cerita tentang janji masa depan yang tak pernah terwujud. Dari sana, istilah ini membantu banyak orang menyadari bahwa cinta seharusnya ditunjukkan melalui tindakan, bukan sekadar rencana kosong.
Penting untuk memahami perbedaan antara rencana masa depan yang realistis dan future faking. Rencana yang sehat biasanya diikuti langkah kecil yang konsisten dan komunikasi terbuka. Sebaliknya, future faking ditandai dengan pengulangan janji tanpa progres yang jelas. Mengenali tanda ini sejak awal dapat mencegah luka emosional yang lebih dalam.
Dalam hubungan yang sehat, masa depan dibangun bersama melalui komitmen dan usaha nyata. Janji boleh saja diucapkan, namun harus diiringi tanggung jawab. Future faking justru menghambat pertumbuhan hubungan karena didasarkan pada ilusi, bukan realitas.
Pada akhirnya, future faking sebagai istilah gaul berfungsi sebagai pengingat penting. Cinta tidak seharusnya menahan seseorang dengan harapan palsu. Dengan memahami maknanya, kita dapat lebih bijak menilai hubungan dan memilih relasi yang jujur, aman, dan saling menghargai.