
Menulis di Beritacinta, saya berbagi cerita, tips, dan inspirasi seputar cinta dan hubungan. Semoga tulisan-tulisan di sini bisa menemani dan memberi warna di perjalanan cinta kamu.
Comfort over love adalah kondisi ketika seseorang memilih bertahan dalam hubungan karena rasa nyaman, bukan karena cinta yang mendalam. Istilah ini merupakan gambaran situasi emosional yang sering terjadi tanpa disadari, terutama dalam hubungan jangka panjang. Banyak orang merasa aman dengan rutinitas, kebiasaan, dan kehadiran pasangan, meskipun perasaan cinta perlahan memudar. Kenyamanan akhirnya menjadi alasan utama untuk tetap bersama.
Fenomena comfort over love biasanya muncul secara perlahan. Awalnya hubungan dipenuhi rasa sayang dan ketertarikan, namun seiring waktu, intensitas emosional menurun. Yang tersisa adalah kebiasaan berbagi waktu, cerita, dan peran dalam hidup masing masing. Hubungan tidak lagi memberi getaran emosional, tetapi terasa terlalu sayang untuk dilepaskan. Pada titik ini, kenyamanan sering disalahartikan sebagai bentuk cinta.
Bagi sebagian orang, memilih kenyamanan terasa lebih aman dibanding mengambil risiko kehilangan. Hubungan yang sudah stabil memberi rasa tenang karena dapat ditebak dan tidak mengejutkan. Namun di balik itu, ada kebutuhan emosional yang tidak terpenuhi. Percakapan mendalam berkurang, usaha saling memahami melemah, dan hubungan berjalan secara otomatis. Cinta yang seharusnya tumbuh justru berhenti berkembang.
Dampak dari comfort over love bisa terasa dalam jangka panjang. Salah satu pihak atau bahkan keduanya dapat merasa hampa tanpa tahu penyebab pastinya. Ada perasaan bersalah karena tidak sepenuhnya bahagia, namun juga takut untuk pergi. Konflik batin ini membuat seseorang terjebak antara rasa nyaman dan keinginan untuk merasakan cinta yang utuh. Hubungan pun berubah menjadi zona aman yang membatasi pertumbuhan emosional.
Comfort over love juga sering dipertahankan karena tekanan lingkungan. Takut mengecewakan keluarga, khawatir memulai ulang, atau merasa usia tidak lagi ideal menjadi alasan tambahan. Padahal, bertahan dalam hubungan tanpa cinta dapat menguras energi emosional. Waktu terus berjalan, sementara kebutuhan hati diabaikan demi stabilitas semu.
Menyadari adanya comfort over love adalah langkah penting untuk bersikap jujur pada diri sendiri. Kenyamanan bukanlah hal yang salah, namun tidak seharusnya menggantikan cinta sepenuhnya. Hubungan yang sehat idealnya memberi rasa aman sekaligus kehangatan emosional. Ketika keduanya tidak seimbang, perlu ada refleksi mendalam.
Memilih untuk berbicara terbuka atau bahkan berani melepaskan bisa menjadi bentuk menghargai diri sendiri. Cinta yang tulus tidak hanya membuat nyaman, tetapi juga membuat merasa hidup. Comfort over love seharusnya menjadi pengingat bahwa hubungan layak diperjuangkan hanya jika hati ikut terlibat sepenuhnya.