Ambar Arum Putri Hapsari
mahasiswa Universitas STEKOM, BERITA CINTAMenulis di Beritacinta, saya berbagi cerita, tips, dan inspirasi seputar cinta dan hubungan. Semoga tulisan-tulisan di sini bisa menemani dan memberi warna di perjalanan cinta kamu.
Dunia virtual itu seru. Ada game, media sosial, komunitas online, sampai ruang obrolan yang terasa lebih nyaman daripada dunia nyata. Tapi ketika seseorang mulai lebih memilih layar dibandingkan dengan interaksi langsung, perlahan muncul dampak yang tidak selalu terlihat.
Fenomena ini makin sering terjadi pada anak muda yang tumbuh bersama internet. Awalnya hanya hobi. Lama-lama jadi kebiasaan. Lalu tanpa sadar, dunia nyata terasa asing.
Ketika terlalu nyaman di dunia digital, kemampuan komunikasi langsung bisa ikut menurun. Tatap muka terasa canggung. Small talk jadi melelahkan. Bahkan sekadar nongkrong bisa terasa menguras energi.
Menurut penelitian dari American Psychological Association, kurangnya interaksi sosial langsung dalam jangka panjang dapat memengaruhi keterampilan sosial dan meningkatkan rasa kesepian.
Ironisnya, meski online setiap hari, rasa sepi tetap bisa muncul.
Di dunia virtual, kita bisa mengatur citra diri. Bisa memilih kapan membalas pesan. Bisa menghindari konflik dengan mute atau block.
Di dunia nyata, tidak sesederhana itu.
Akibatnya, seseorang yang terlalu lama terjebak di dunia virtual bisa menjadi lebih sensitif saat menghadapi kritik, perbedaan pendapat, atau konflik langsung. Toleransi terhadap ketidaknyamanan menurun.
Scroll tanpa sadar sampai larut malam. Main game berjam jam. Nonton tanpa henti.
Paparan layar berlebihan berdampak pada kualitas tidur dan konsentrasi. Dalam jangka panjang, ini bisa memengaruhi produktivitas, suasana hati, bahkan kesehatan fisik.
Tubuh lelah, pikiran juga ikut tertekan.
Dunia virtual sering dirancang untuk memberi stimulasi cepat. Notifikasi, reward instan, visual menarik.
Dunia nyata tidak selalu secepat itu.
Akibatnya, aktivitas offline seperti belajar, bekerja, atau membangun relasi terasa membosankan. Standar kesenangan berubah. Hal sederhana jadi terasa kurang memuaskan.
Beberapa orang membangun identitas sepenuhnya di dunia maya. Validasi datang dari like, komentar, atau ranking game.
Ketika respons menurun, mood ikut turun. Harga diri bisa bergantung pada aktivitas online.
Jika tidak disadari, ini bisa mengarah pada kecemasan sosial dan depresi.
Dunia virtual bukan musuh. Ia memberi ruang belajar, hiburan, bahkan peluang karier. Masalahnya bukan pada teknologinya, tetapi pada keseimbangannya.
Kita tetap butuh percakapan nyata, sentuhan nyata, dan pengalaman yang tidak bisa di-pause.
Pada akhirnya, manusia tetap makhluk sosial. Dan koneksi paling kuat masih terjadi di dunia tiga dimensi.