Ambar Arum Putri Hapsari
mahasiswa Universitas STEKOM, BERITA CINTAMenulis di Beritacinta, saya berbagi cerita, tips, dan inspirasi seputar cinta dan hubungan. Semoga tulisan-tulisan di sini bisa menemani dan memberi warna di perjalanan cinta kamu.
Mokondo adalah salah satu istilah gaul yang belakangan sering muncul di media sosial, terutama dalam pembahasan seputar hubungan asmara. Banyak orang menggunakan kata ini untuk menyindir seseorang yang dianggap tidak memberikan kontribusi dalam hubungan, tetapi tetap menikmati berbagai keuntungan dari pasangannya.
Meski terdengar lucu dan sering digunakan dalam bentuk candaan, istilah mokondo sebenarnya memiliki makna yang cukup negatif. Karena itu, penting untuk memahami arti sebenarnya agar tidak salah menggunakan atau menafsirkan istilah tersebut.
Popularitas mokondo juga menunjukkan bagaimana masyarakat sering menciptakan istilah baru untuk menggambarkan perilaku tertentu dalam hubungan yang dianggap merugikan salah satu pihak.
Mokondo merupakan singkatan dari "Modal Konsumsi Doang". Istilah ini biasanya ditujukan kepada seseorang yang hanya menikmati fasilitas, perhatian, atau pengeluaran dari pasangannya tanpa memberikan usaha atau kontribusi yang seimbang.
Dalam konteks hubungan, seseorang yang disebut mokondo sering digambarkan sebagai pasangan yang selalu ingin ditraktir, dibelikan sesuatu, atau dibantu secara finansial, tetapi jarang menunjukkan tanggung jawab maupun timbal balik yang setara.
Misalnya, seseorang selalu meminta pasangannya membayar makan, membelikan hadiah, atau menanggung berbagai kebutuhan lainnya. Namun, ketika diminta untuk berusaha atau membantu, ia cenderung menghindari dan hanya menikmati keuntungan yang ada.
Karena itulah istilah mokondo sering digunakan sebagai kritik terhadap hubungan yang tidak sehat dan tidak seimbang. Banyak orang menilai bahwa hubungan yang baik seharusnya dibangun atas dasar saling mendukung, bukan hanya satu pihak yang terus memberi sementara pihak lainnya hanya menerima.
Namun, perlu diingat, kondisi ekonomi seseorang tidak otomatis membuatnya menjadi mokondo. Istilah ini lebih merujuk pada sikap dan pola perilaku daripada kondisi keuangan semata.
Mokondo menjadi populer karena banyak orang merasa pernah melihat atau bahkan mengalami situasi seperti itu dalam hubungan. Ketika salah satu pihak merasa dimanfaatkan secara terus-menerus, istilah ini sering muncul sebagai bentuk sindiran.
Meski demikian, tidak semua hubungan harus dihitung secara matematis mengenai siapa yang lebih banyak memberi. Dalam hubungan yang sehat, ada kalanya satu pihak memberi lebih banyak karena kondisi tertentu, dan hal tersebut bisa saja terjadi secara bergantian.
Yang membedakan adalah adanya rasa tanggung jawab dan niat untuk berkontribusi. Seseorang yang sedang mengalami kesulitan ekonomi tetapi tetap berusaha memberikan perhatian, dukungan emosional, atau bentuk kontribusi lain tentu berbeda dengan seseorang yang sengaja memanfaatkan pasangannya.
Karena itu, sebelum melabeli seseorang sebagai mokondo, penting untuk melihat situasi secara menyeluruh. Jangan sampai istilah tersebut digunakan secara sembarangan tanpa memahami konteks yang sebenarnya.
Pada akhirnya, mokondo adalah istilah yang menggambarkan perilaku menikmati keuntungan dalam hubungan tanpa adanya usaha yang seimbang dari pihak yang bersangkutan. Hubungan yang sehat bukan tentang siapa yang paling banyak mengeluarkan uang, melainkan tentang adanya rasa saling menghargai, saling mendukung, dan keinginan untuk tumbuh bersama sebagai pasangan.