Ambar Arum Putri Hapsari
mahasiswa Universitas STEKOM, BERITA CINTAMenulis di Beritacinta, saya berbagi cerita, tips, dan inspirasi seputar cinta dan hubungan. Semoga tulisan-tulisan di sini bisa menemani dan memberi warna di perjalanan cinta kamu.
Terlalu fokus pada diri sendiri adalah kondisi ketika perhatian kita begitu banyak terserap oleh masalah, kebutuhan, target, dan perasaan pribadi sampai tanpa sadar kita kehilangan kepekaan terhadap orang lain. Ini tidak selalu berarti egois atau tidak punya kepedulian. Terkadang, kita hanya terlalu sibuk mengurus kehidupan sendiri sampai lupa bahwa orang lain juga sedang berjuang.
Ada masa ketika hidup memang terasa penuh.
Pekerjaan menumpuk.
Pikiran tidak berhenti.
Masalah pribadi datang bergantian.
Kita sibuk memikirkan apa yang harus diselesaikan hari ini sampai tidak sempat bertanya bagaimana keadaan orang di sekitar kita.
Kemudian seseorang mulai berkata, "Kamu sekarang berubah."
Kita mungkin langsung merasa tersinggung.
Bukannya aku nggak peduli. Aku cuma lagi banyak masalah.
Dan mungkin memang benar.
Namun, dari sudut pandang orang lain, ketidakhadiran tetap terasa sebagai ketidakhadiran, meskipun alasan di baliknya sebenarnya bukan karena tidak peduli.
Ada kebiasaan manusia yang sering tidak disadari, yaitu melihat suatu keadaan terutama dari sudut pandang diri sendiri.
Ketika kita marah, kita fokus pada alasan mengapa kita marah.
Ketika kecewa, kita sibuk memikirkan mengapa orang lain mengecewakan kita.
Ketika lelah, kita hanya ingin dimengerti.
Semua itu wajar.
Namun, hubungan dengan orang lain membutuhkan kemampuan untuk sesekali keluar dari kepala sendiri.
Coba bayangkan seseorang yang sedang bercerita kepadamu. Alih-alih benar-benar mendengarkan, pikiran kita sudah sibuk menyiapkan jawaban. Atau ketika teman sedang mengalami masalah, kita langsung membandingkannya dengan pengalaman sendiri.
"Aku dulu juga pernah mengalami itu."
Niatnya mungkin ingin menunjukkan bahwa kita memahami.
Tetapi terkadang orang tersebut tidak membutuhkan cerita tentang kita. Mereka hanya ingin didengarkan.
Begitu pula dalam hubungan sehari-hari. Kita bisa sangat sibuk menuntut orang lain memahami kondisi kita, tetapi lupa bertanya apakah mereka juga sedang berusaha memahami kita.
Menjadi lebih peka terhadap orang lain bukan berarti harus mengabaikan diri sendiri.
Kita tetap berhak beristirahat.
Tetap boleh mengatakan tidak.
Tetap boleh memprioritaskan kebutuhan pribadi.
Namun, sesekali berhentilah dan lihat sekeliling.
Siapa yang akhir-akhir ini selalu menanyakan kabarmu, tetapi tidak pernah kamu tanyakan balik?
Siapa yang sering mendengarkan ceritamu, tetapi ketika terakhir kali kamu benar-benar mendengarkan ceritanya?
Siapa yang selalu hadir ketika kamu membutuhkan bantuan, tetapi mungkin sekarang sedang membutuhkan seseorang untuk hadir baginya?
Pertanyaan-pertanyaan kecil seperti ini dapat membuat kita menyadari bahwa kepedulian tidak selalu membutuhkan tindakan besar.
Kadang cukup dengan mengirim pesan.
Menanyakan kabar.
Mendengarkan tanpa memotong.
Mengingat hal kecil yang pernah diceritakan seseorang.
Atau sekadar berkata, "Aku tahu kamu lagi banyak pikiran. Kalau butuh teman, aku ada."
Tidak semua orang membutuhkan solusi. Beberapa hanya ingin merasa bahwa keberadaannya masih diperhatikan.
Pada akhirnya, terlalu fokus pada diri sendiri bukan alasan untuk terus menyalahkan diri. Kita semua punya masa ketika hidup terasa begitu penuh sampai dunia seolah hanya berisi masalah kita sendiri.
Namun, ketika mulai menyadarinya, kita bisa memilih untuk kembali melihat sekitar.
Hidup bukan hanya tentang bagaimana kita ingin dimengerti, tetapi juga tentang belajar memahami. Bukan hanya tentang siapa yang hadir ketika kita membutuhkan, tetapi juga tentang apakah kita bersedia hadir ketika orang lain membutuhkan kita.
Mungkin kita tidak pernah benar-benar kehilangan rasa peduli.
Kita hanya perlu sesekali mengangkat kepala dari kesibukan sendiri dan menyadari bahwa di luar sana, ada orang lain yang juga sedang berjuang.