Ambar Arum Putri Hapsari
mahasiswa Universitas STEKOM, BERITA CINTAMenulis di Beritacinta, saya berbagi cerita, tips, dan inspirasi seputar cinta dan hubungan. Semoga tulisan-tulisan di sini bisa menemani dan memberi warna di perjalanan cinta kamu.
Dalam beberapa tahun terakhir, istilah childfree semakin sering terdengar, terutama di kalangan generasi muda. Childfree merujuk pada keputusan seseorang atau pasangan untuk tidak memiliki anak, baik sementara maupun seumur hidup. Namun, pilihan ini kerap menuai pro dan kontra, bahkan dianggap “salah” oleh sebagian masyarakat.
Lalu, benarkah menjadi childfree adalah keputusan yang keliru?
Childfree adalah pilihan sadar untuk tidak memiliki anak. Berbeda dengan kondisi tidak memiliki anak karena faktor biologis atau keadaan tertentu, childfree adalah keputusan yang diambil dengan pertimbangan matang.
Alasan seseorang memilih childfree bisa sangat beragam, seperti:
Di banyak budaya, termasuk di Indonesia, memiliki anak dianggap sebagai “tahapan wajib” dalam kehidupan. Menyimpang dari norma ini sering dipandang negatif.
Banyak individu yang mendapatkan tekanan dari orang tua atau kerabat untuk memiliki keturunan, terutama terkait “meneruskan garis keluarga”.
Sebagian orang menilai childfree sebagai pilihan egois karena dianggap hanya mementingkan diri sendiri tanpa memikirkan kontribusi pada generasi berikutnya.
Setiap orang memiliki hak untuk menentukan jalan hidupnya, termasuk memilih untuk memiliki atau tidak memiliki anak.
Kebahagiaan dan kesuksesan tidak memiliki satu definisi yang sama untuk semua orang. Apa yang benar bagi satu orang belum tentu berlaku untuk orang lain.
Memiliki anak bukan hanya soal keinginan, tetapi juga kesiapan mental, emosional, dan finansial. Memilih untuk tidak memiliki anak bisa menjadi bentuk tanggung jawab, bukan sebaliknya.
Namun, tantangan ini juga bisa dihadapi dengan membangun komunitas, hubungan sosial yang sehat, dan perencanaan hidup yang matang.
Menjadi childfree bukanlah pilihan yang salah, melainkan keputusan personal yang didasarkan pada nilai, kondisi, dan tujuan hidup masing-masing individu. Yang terpenting bukanlah mengikuti standar orang lain, tetapi memahami diri sendiri dan bertanggung jawab atas pilihan yang diambil.