Ambar Arum Putri Hapsari
mahasiswa Universitas STEKOM, BERITA CINTAMenulis di Beritacinta, saya berbagi cerita, tips, dan inspirasi seputar cinta dan hubungan. Semoga tulisan-tulisan di sini bisa menemani dan memberi warna di perjalanan cinta kamu.
Romantic self abandonment adalah istilah kata gaul yang menggambarkan kondisi ketika seseorang mengabaikan kebutuhan, batasan, dan keinginan pribadinya demi mempertahankan hubungan. Situasi ini sering terjadi secara perlahan dan tidak disadari, karena dibungkus oleh rasa cinta, takut kehilangan, atau keinginan untuk selalu diterima oleh pasangan.
Romantic self abandonment muncul ketika seseorang terus menyesuaikan diri secara berlebihan. Ia mengalah meski tersakiti, diam meski kecewa, dan mengorbankan nilai pribadi demi menjaga hubungan tetap utuh. Dalam jangka pendek, sikap ini terlihat seperti bentuk pengorbanan, namun dalam jangka panjang justru mengikis identitas diri.
Banyak orang terjebak dalam pola ini karena percaya bahwa cinta harus selalu berkorban. Padahal, hubungan yang sehat tidak menuntut seseorang untuk kehilangan dirinya sendiri. Saat kebutuhan emosional pribadi diabaikan, muncul rasa hampa yang sulit dijelaskan. Seseorang tetap bersama pasangan, tetapi merasa jauh dari dirinya sendiri.
Tanda romantic self abandonment bisa terlihat dari sulitnya mengatakan tidak, rasa bersalah berlebihan saat mengungkapkan kebutuhan, dan ketakutan ekstrem akan konflik. Individu cenderung memprioritaskan kenyamanan pasangan dibanding kesejahteraan emosionalnya sendiri. Bahkan ketika merasa tidak bahagia, ia tetap bertahan karena merasa tidak punya pilihan lain.
Dampak dari kondisi ini sangat serius. Seseorang bisa kehilangan kepercayaan diri, merasa tidak berharga, dan bergantung secara emosional pada pasangan. Hubungan yang seharusnya menjadi ruang aman justru berubah menjadi sumber tekanan. Ironisnya, semakin seseorang menghilangkan dirinya, semakin besar kemungkinan hubungan menjadi tidak seimbang.
Romantic self abandonment juga sering berkaitan dengan pola luka masa lalu. Pengalaman ditinggalkan atau kurang dihargai sebelumnya membuat seseorang rela melakukan apa pun agar tidak kehilangan pasangan saat ini. Tanpa disadari, pola ini terus berulang dan memperkuat siklus hubungan tidak sehat.
Menyadari keberadaan romantic self abandonment merupakan langkah awal yang penting. Refleksi diri tentang apa yang sebenarnya dirasakan dan dibutuhkan menjadi kunci pemulihan. Belajar mengenali batasan, mengungkapkan perasaan dengan jujur, dan menghargai diri sendiri adalah bagian dari proses keluar dari pola ini.
Hubungan yang sehat memberi ruang bagi dua individu untuk tumbuh, bukan saling menghapus. Cinta tidak seharusnya membuat seseorang meninggalkan dirinya sendiri. Dengan memahami romantic self abandonment, seseorang dapat mulai membangun hubungan yang lebih seimbang, penuh kesadaran, dan saling menghargai secara emosional.