Menulis di Beritacinta, saya berbagi cerita, tips, dan inspirasi seputar cinta dan hubungan. Semoga tulisan-tulisan di sini bisa menemani dan memberi warna di perjalanan cinta kamu.
0
Memiliki pasangan perempuan yang mempunyai teman LGBT adalah hal yang tidak otomatis menjadi masalah dalam sebuah hubungan. Pertemanan merupakan bagian dari kehidupan sosial seseorang, sehingga pasangan tetap berhak memiliki lingkungan dan teman sendiri. Yang perlu diperhatikan bukan identitas temannya, melainkan bagaimana batasan, komunikasi, dan sikap pasangan dalam menjaga hubungan. Rasa cemburu atau tidak nyaman juga merupakan hal yang bisa dibicarakan selama disampaikan tanpa merendahkan atau menyalahkan siapa pun.
Pahami Rasa Tidak Nyaman Tanpa Menuduh
Ketika melihat pasangan terlalu dekat dengan salah satu temannya, wajar jika muncul rasa khawatir. Terlebih jika mereka sering bertukar pesan, bertemu, atau terlihat sangat dekat secara emosional. Namun, jangan langsung menganggap kedekatan tersebut sebagai tanda perselingkuhan hanya karena teman tersebut LGBT.
Cobalah memahami apa yang sebenarnya membuat Anda tidak nyaman. Apakah karena komunikasi mereka terlalu sering, ada percakapan yang dirahasiakan, pasangan lebih mengutamakan temannya, atau Anda merasa kurang mendapatkan perhatian? Fokuskan pembicaraan pada perilaku yang terjadi, bukan pada identitas temannya.
Saat membicarakannya, hindari kalimat yang bernada menuduh seperti meminta pasangan memutuskan pertemanan. Lebih baik jelaskan perasaan secara terbuka. Misalnya, sampaikan bahwa Anda merasa kurang nyaman ketika pasangan terlalu sering berkomunikasi secara pribadi hingga mengurangi waktu dan perhatian dalam hubungan.
Pasangan yang menghargai hubungan seharusnya mau mendengarkan kekhawatiran tersebut. Begitu juga sebaliknya, Anda perlu memberikan kesempatan kepada pasangan untuk menjelaskan bagaimana sebenarnya hubungan pertemanan tersebut.
Tentukan Batas yang Sehat Bersama
Batas dalam hubungan merupakan hal penting, termasuk ketika pasangan memiliki teman yang sangat dekat. Batas bukan berarti melarang pasangan berteman, tetapi menentukan perilaku apa yang masih dianggap wajar dan apa yang dapat mengganggu kepercayaan.
Misalnya, Anda dan pasangan dapat sepakat bahwa tidak ada percakapan yang sengaja disembunyikan, tidak memberikan perhatian romantis kepada orang lain, dan tidak membicarakan masalah hubungan secara berlebihan kepada teman hingga pasangan merasa tersisihkan. Batas tersebut sebaiknya berlaku secara adil kepada kedua pihak.
Perhatikan juga tindakan pasangan setelah pembicaraan. Jika ia tetap menghargai pertemanan tetapi berusaha menjaga perasaan Anda, hal tersebut menunjukkan adanya keseimbangan. Sebaliknya, jika pasangan sengaja merahasiakan komunikasi, mengabaikan kesepakatan, atau membuat Anda terus merasa tidak dihargai, masalahnya bukan pada identitas temannya, tetapi pada perilaku yang merusak kepercayaan.
Hindari pula meminta pasangan menjauh hanya karena Anda takut kehilangan. Hubungan yang sehat membutuhkan kepercayaan, bukan pengawasan terus-menerus. Jika rasa cemburu muncul, komunikasikan dengan tenang dan cari solusi bersama.
Pada akhirnya, pasangan memiliki hak untuk berteman, sementara Anda juga memiliki hak untuk merasa dihargai dalam hubungan. Kuncinya adalah komunikasi, kepercayaan, dan batas yang disepakati bersama tanpa mendiskriminasi siapa pun.