Menulis di Beritacinta, saya berbagi cerita, tips, dan inspirasi seputar cinta dan hubungan. Semoga tulisan-tulisan di sini bisa menemani dan memberi warna di perjalanan cinta kamu.
0
Menjalin hubungan dengan seseorang berarti juga menerima bahwa ia punya masa lalu. Tapi tidak semua orang mudah berdamai dengan hal itu. Dalam hubungan, rasa insecure bisa datang dari banyak hal. Salah satunya adalah masa lalu pasangan. Entah tentang mantannya, pengalaman cintanya, atau cerita-cerita yang tanpa sengaja kita tahu dan terus terbayang. Masalahnya, masa lalu adalah sesuatu yang tidak bisa diubah.
Namun bagi sebagian orang, mengetahui bahwa pasangan pernah mencintai orang lain dengan begitu dalam bisa memunculkan rasa tidak nyaman. Muncul pertanyaan seperti, “Apa aku cukup baik?”, “Apa dia masih belum selesai dengan masa lalunya?”, atau bahkan “Apa aku hanya pengganti?” Perasaan-perasaan itu wajar. Apalagi jika pasangan masih menyimpan jejak masa lalu, seperti foto lama, kebiasaan membandingkan, atau masih sering membahas mantan. Hal-hal kecil seperti itu bisa membuat rasa aman dalam hubungan terganggu.
Namun penting untuk dipahami, insecure pada masa lalu pasangan bukan selalu tanda bahwa hubungan itu salah. Kadang itu hanya tanda bahwa ada luka atau ketakutan dalam diri yang belum selesai.
Yang Harus Dilihat Bukan Masa Lalunya, Tapi Sikapnya Sekarang
Banyak orang terlalu fokus pada siapa pasangan mereka dulu, sampai lupa melihat siapa dia hari ini. Padahal yang lebih penting bukan berapa banyak cerita yang sudah ia lewati, tetapi bagaimana ia memperlakukanmu sekarang. Apakah dia memberi rasa aman?, Apakah dia terbuka?, Apakah dia menunjukkan bahwa kamu adalah pilihannya saat ini? Jika jawabannya iya, maka masa lalu seharusnya tidak selalu menjadi ancaman. Karena setiap orang berhak punya sejarah sebelum bertemu dengan kita. Yang menjadi masalah adalah ketika masa lalu itu masih aktif memengaruhi hubungan saat ini. Misalnya, masih sering menghubungi mantan, masih membandingkan, atau belum benar-benar selesai secara emosional. Di situ, rasa insecure bukan sekadar overthinking bisa jadi itu sinyal bahwa ada hal yang perlu dibicarakan.
Haruskah Diperjuangkan? Jawabannya Ada pada Rasa Aman yang Dibangun
Hubungan layak diperjuangkan jika kedua pihak sama-sama mau membangun rasa aman. Bukan hanya satu pihak yang terus menenangkan dirinya sendiri. Jika pasangan paham tentang rasa insecure yang kamu alami dan mau membantu membangun kepercayaan, hubungan itu masih punya ruang untuk tumbuh. Namun jika kamu terus merasa kecil, terus dibandingkan, atau terus dihantui masa lalu yang bukan milikmu, itu bisa melelahkan.
Pada akhirnya, mencintai seseorang berarti menerima masa lalunya, tapi menerima bukan berarti harus menanggung luka yang tidak kamu buat. Karena hubungan yang sehat bukan tentang siapa yang datang dulu, tetapi siapa yang benar-benar hadir dan memilih bertahan sekarang.