
Menulis di Beritacinta, saya berbagi cerita, tips, dan inspirasi seputar cinta dan hubungan. Semoga tulisan-tulisan di sini bisa menemani dan memberi warna di perjalanan cinta kamu.
Emotional Push-Away adalah kecenderungan seseorang untuk menciptakan jarak ketika hubungan mulai terasa semakin intim dan serius. Pola ini merupakan bentuk respons emosional yang sering muncul tanpa disadari. Emotional Push-Away ialah kondisi ketika perasaan sudah tumbuh dalam, tetapi justru diikuti dengan sikap menjauh perlahan.
Pada awal kedekatan, semuanya terasa mudah. Obrolan mengalir, perhatian terasa tulus, dan waktu bersama dipenuhi antusiasme. Tidak ada tekanan besar karena hubungan masih berada di tahap ringan dan penuh rasa penasaran.
Namun ketika ikatan mulai terasa nyata dan pembicaraan tentang masa depan muncul, perubahan mulai terlihat. Seseorang yang mengalami Emotional Push-Away bisa menjadi lebih dingin, lebih sibuk dari biasanya, atau membatasi komunikasi. Tindakan ini bukan selalu karena kehilangan rasa, melainkan karena munculnya ketakutan baru.
Ketakutan tersebut sering berkaitan dengan pengalaman masa lalu. Pernah mengalami kekecewaan, dikhianati, atau ditinggalkan membuat seseorang lebih waspada saat perasaan mulai dalam. Semakin ia merasa terikat, semakin besar pula kekhawatiran akan kemungkinan terluka.
Emotional Push-Away juga bisa dipicu oleh rasa takut kehilangan kendali. Ketika hubungan menjadi prioritas emosional, sebagian orang merasa rentan. Untuk mengurangi rasa rentan itu, ia memilih mengambil jarak agar tidak terlalu bergantung.
Bagi pasangan, sikap ini bisa terasa membingungkan. Perhatian yang sebelumnya konsisten tiba tiba berkurang. Kedekatan yang sudah terbangun terasa seperti ditarik kembali. Tanpa komunikasi yang jelas, hal ini mudah menimbulkan salah paham.
Jika pola Emotional Push-Away terus terjadi, hubungan akan sulit berkembang. Setiap kali kedekatan meningkat, jarak kembali tercipta. Siklus ini membuat hubungan berjalan di tempat tanpa kejelasan arah.
Mengatasi pola ini membutuhkan kesadaran diri dan keberanian. Seseorang perlu mengakui bahwa dorongan menjauh bukan selalu tanda bahwa hubungan salah, melainkan reaksi terhadap ketakutan dalam diri. Memahami sumber rasa takut menjadi langkah penting untuk berubah.
Komunikasi terbuka juga berperan besar. Menyampaikan bahwa ada rasa khawatir atau trauma membantu pasangan memahami situasi. Dengan begitu, hubungan dapat dibangun atas dasar empati, bukan asumsi.
Emotional Push-Away mengajarkan bahwa mencintai berarti siap menghadapi risiko emosional. Kedekatan memang membuat seseorang lebih rentan, tetapi juga membuka peluang untuk hubungan yang lebih mendalam dan bermakna.
Pada akhirnya, keberanian untuk tetap bertahan saat perasaan mulai dalam akan menentukan arah hubungan. Dengan kesiapan emosional dan komunikasi yang sehat, pola menjauh bisa diubah menjadi proses bertumbuh bersama.