Ambar Arum Putri Hapsari
mahasiswa Universitas STEKOM, BERITA CINTAMenulis di Beritacinta, saya berbagi cerita, tips, dan inspirasi seputar cinta dan hubungan. Semoga tulisan-tulisan di sini bisa menemani dan memberi warna di perjalanan cinta kamu.
Aneh ya.
Sudah sering disakiti, tapi tetap bertahan.
Sudah capek nangis, tapi masih berharap dia berubah.
Sudah tahu hubungan itu melelahkan, tapi tetap sulit pergi.
Banyak orang yang berada dalam hubungan abusive sebenarnya sadar kalau hubungannya tidak sehat. Masalahnya, hati mereka masih terus berharap.
Karena Kamu Terlalu Fokus Pada “Versi Baiknya”
Pasangan yang abusif tidak selalu jahat setiap waktu.
Kadang mereka bisa sangat manis, perhatian, bahkan membuatmu merasa sangat dicintai. Dan biasanya, momen-momen baik itulah yang terus kamu pegang.
Kamu mulai berpikir:
“Mungkin dia sebenarnya baik…”
“Mungkin dia cuma lagi emosi…”
“Mungkin nanti dia berubah…”
Akhirnya, kamu bertahan karena berharap versi baik itu muncul lagi.
Rasa takut sendirian sering membuat seseorang memilih bertahan.
Walau disakiti, hubungan itu tetap terasa “lebih baik” daripada harus kehilangan seseorang yang sudah terbiasa ada.
Karena itu, banyak orang mulai menoleransi hal-hal yang sebenarnya menyakitkan.
Ada juga orang yang merasa harus memperbaiki pasangannya.
Mereka berpikir:
“Kalau aku sabar, dia pasti berubah.”
“Kalau aku lebih ngerti dia, semuanya bakal membaik.”
Padahal hubungan bukan tempat untuk mengorbankan diri demi menyelamatkan orang lain terus-menerus.
Hubungan abuser sering membuat seseorang kehilangan rasa percaya diri sedikit demi sedikit.
Sering diremehkan, disalahkan, atau dibuat merasa tidak cukup bisa membuatmu mulai percaya:
“Kayaknya memang aku yang salah…”
“Siapa lagi yang mau sama aku selain dia?”
Di titik ini, harapan jadi makin sulit dilepaskan karena kamu merasa tidak pantas mendapat yang lebih baik.
Hubungan abusive sering punya pola:
disakiti → minta maaf → romantis lagi → disakiti lagi.
Naik turun emosi seperti ini bisa membuat seseorang “terikat” secara emosional tanpa sadar.
Saat pasangan kembali baik, kamu merasa lega dan berharap semuanya berubah. Padahal siklusnya sering terulang lagi.
Berharap Itu Wajar, Tapi Jangan Sampai Menghancurkan Diri
Tapi kalau harapan itu membuatmu terus terluka, mungkin sudah waktunya bertanya:
“Apakah aku bertahan karena cinta… atau karena takut melepaskan?”
Karena cinta yang sehat tidak membuatmu terus hidup dalam rasa sakit.
Mudah berharap dan terjebak dalam hubungan abusive sering terjadi karena rasa takut kehilangan, harapan kosong, dan luka emosional yang perlahan memengaruhi cara pandang diri sendiri.
Dan penting untuk diingat, kamu tidak harus bertahan di hubungan yang terus menyakitimu hanya karena berharap suatu hari semuanya akan berubah.