Ambar Arum Putri Hapsari
mahasiswa Universitas STEKOM, BERITA CINTAMenulis di Beritacinta, saya berbagi cerita, tips, dan inspirasi seputar cinta dan hubungan. Semoga tulisan-tulisan di sini bisa menemani dan memberi warna di perjalanan cinta kamu.
Hubungan kami sudah hampir tujuh tahun sekarang. Enam tahun lebih tepatnya waktu semuanya berubah. Kami bareng dari zaman SMK sampai kuliah. Dari masa dia belum punya apa-apa.
Dulu dia nggak punya motor. Ke mana-mana naik angkot. Pernah kehujanan bareng, pernah nunggu angkot lama banget cuma buat bisa pulang. Tapi aku nggak pernah malu. Nggak pernah merasa kurang. Memang niatku dari awal mau nemenin dia.
Waktu dia mulai kuliah dan akhirnya punya motor sendiri, rasanya kayak naik level bareng. Kami sering muter kota, nongkrong sederhana tapi bahagia. Bahkan banyak yang bilang hubungan kami itu green banget. Nggak toxic, nggak drama, saling dukung.
Dia nggak pernah nuntut aku macem-macem. Nggak posesif. Nggak keras. Selalu sabar.
Dan justru di situ letak kebodohanku.
Aku selingkuh. Bukan karena dia kurang. Bukan karena dia jahat. Bukan karena dia nggak perhatian.
Tapi karena egoku. Karena aku merasa butuh suasana baru. Butuh adrenalin tolol yang bikin deg-degan. Dan entah kenapa waktu itu aku merasa aman. Aku kira dia nggak akan tahu. Dan kalaupun tahu, dia bakal biasa aja.
Sombong banget kan aku.
Teman cowok itu cuma teman kenal biasa menurut pacarku. Padahal aku sudah mulai sering berkomunikasi lebih dari sekadar teman. Sampai suatu hari kami berduaan di kosan.
Nggak ada yang aneh-aneh. Kami cuma ngobrol, habisin waktu bareng. Tapi ya jujur aja, berduaan di kamar kos sama cowok lain itu sendiri sudah salah.
Dan hari itu dia datang.
Dia bilang sebelumnya di tempatnya hujan, jadi kupikir dia nggak akan ke kosanku. Ternyata dia tetap datang. Pulang kerja part-time, masih capek, tapi tetap mau ketemu aku.
Dan dia mergoki kami berdua.
Dia nggak marah besar. Nggak teriak. Nggak mukul. Dia cuma minta cowok itu pergi. Suaranya tenang banget.
Setelah temanku benar-benar pergi, dia cuma pamit pulang.
Aku nahan dia. Nangis. Minta maaf. Jelasin, ini itu yang sebenarnya tetap nggak membenarkan apa pun.
Tapi dia cuma senyum. Senyum yang nggak pernah aku lihat sebelumnya. Lalu pergi naik motornya.
Sejak hari itu, hampir dua minggu aku nggak dapat kabar. Di kampus nggak ketemu. Ke kosannya nggak ada. Di tempat kerja part-time juga nggak ada. Dan dia yatim piatu. Nggak ada orang tua yang bisa aku hubungi.
Di situ aku panik. Khawatir. Takut kehilangan dia beneran. Takut dia kenapa-kenapa.
Sore itu aku kirim pesan panjang banget. Ngaku salah. Ngaku bodoh. Ngaku nyesel.
Jam sembilan malam dia balas. Singkat.
Dia bilang dia baik-baik saja.
Besoknya aku minta dia jemput ke kampus. Dia jawab iya, tapi pendek banget.
Sudah hampir setahun sejak kejadian itu. Hubungan kami tetap jalan. Dia nggak ninggalin aku. Aku juga nggak pergi.
Tapi dia beda.
Dia tetap baik. Tetap jemput. Tetap ada. Tapi ekspresinya lebih kalem. Lebih tertutup. Lebih hati-hati. Nggak sehangat dulu.
Aku tahu itu akibat ulahku.
Sekarang aku berusaha terus nunjukin kalau aku serius. Lebih perhatian. Lebih terbuka. Lebih jaga sikap. Aku nggak mau egoku makan hubungan ini lagi.
Aku sadar, kepercayaan itu bukan cuma minta maaf lalu selesai. Kepercayaan itu dibangun bertahun-tahun dan bisa hancur dalam satu momen bodoh.
Aku masih sama dia karena aku salah. Dan dia masih sama aku mungkin karena hatinya belum benar-benar habis.
Aku cuma bisa berharap suatu hari nanti dia benar-benar sembuh dari luka yang aku buat sendiri.
Doakan ya.