Ambar Arum Putri Hapsari
mahasiswa Universitas STEKOM, BERITA CINTAMenulis di Beritacinta, saya berbagi cerita, tips, dan inspirasi seputar cinta dan hubungan. Semoga tulisan-tulisan di sini bisa menemani dan memberi warna di perjalanan cinta kamu.
Media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan Gen Z. Hampir setiap hari mereka terhubung dengan berbagai platform yang menampilkan kehidupan orang lain, termasuk kisah percintaan yang terlihat sempurna.
Sayangnya, tidak semua yang terlihat di media sosial adalah kenyataan. Banyak konten yang hanya menampilkan sisi terbaik, sehingga tanpa disadari menciptakan standar hubungan yang tidak realistis. Inilah yang kemudian menimbulkan tekanan bagi banyak anak muda saat menjalani hubungan.
Akibatnya, sebagian Gen Z merasa hubungan mereka kurang romantis, kurang seru, atau bahkan dianggap tidak layak dipertahankan hanya karena tidak seperti yang mereka lihat di internet.
Di media sosial, hubungan sering digambarkan dengan berbagai hal yang tampak ideal, seperti:
Konten couple goals yang terlihat sempurna
Konten seperti ini memang menarik untuk dilihat, tetapi sering kali tidak menunjukkan realitas hubungan yang sebenarnya. Setiap hubungan pasti memiliki konflik, perbedaan, dan proses yang tidak selalu indah.
Namun, ketika Gen Z terus-menerus melihat gambaran hubungan yang sempurna, mereka bisa mulai membandingkan hubungan mereka sendiri.
Salah satu dampak terbesar media sosial adalah kebiasaan membandingkan diri.
Ketika seseorang melihat pasangan lain terlihat lebih romantis atau lebih bahagia di media sosial, mereka bisa mulai merasa:
Padahal, perbandingan tersebut tidak selalu adil karena yang dibandingkan adalah realitas pribadi dengan highlight kehidupan orang lain.
Jika kebiasaan ini terus terjadi, hubungan bisa menjadi penuh tekanan dan kehilangan keaslian.
Selain membandingkan diri, banyak pasangan muda juga merasa harus terlihat bahagia di media sosial.
Beberapa bahkan merasa hubungan mereka harus:
Ketika hubungan lebih fokus pada penampilan di media sosial daripada kualitas hubungan itu sendiri, hubungan bisa menjadi rapuh.
Hubungan yang sehat seharusnya dibangun dari komunikasi, kepercayaan, dan saling memahami, bukan sekadar validasi dari orang lain di internet.
Menghadapi tekanan media sosial bukan berarti harus menjauhi teknologi sepenuhnya. Namun, penting bagi Gen Z untuk menyadari bahwa media sosial bukan gambaran utuh kehidupan nyata.
Beberapa langkah yang bisa membantu membangun hubungan yang lebih sehat antara lain:
Hubungan yang sehat tidak harus terlihat sempurna di internet. Justru hubungan yang kuat biasanya dibangun dari kejujuran, kesabaran, dan pengertian satu sama lain.
Pada akhirnya, cinta yang sehat bukan tentang siapa yang memiliki hubungan paling terlihat romantis di media sosial. Tetapi tentang bagaimana dua orang bisa tumbuh bersama, saling mendukung, dan menghadapi kehidupan secara nyata bersama-sama.