Ambar Arum Putri Hapsari
mahasiswa Universitas STEKOM, BERITA CINTAMenulis di Beritacinta, saya berbagi cerita, tips, dan inspirasi seputar cinta dan hubungan. Semoga tulisan-tulisan di sini bisa menemani dan memberi warna di perjalanan cinta kamu.
Mendengarkan adalah bentuk perhatian yang sering kali jauh lebih berarti daripada sekadar memberikan nasihat. Sayangnya, dalam banyak hubungan, kita sering ingin didengar tetapi lupa melakukan hal yang sama kepada orang lain.
Kita ingin seseorang memahami perasaan kita.
Ingin didengarkan ketika sedang kecewa.
Ingin orang lain mengerti alasan di balik keputusan kita.
Tetapi ketika giliran orang lain bercerita, kita justru sibuk memikirkan respons, membandingkan pengalaman, atau bahkan mengalihkan pembicaraan kembali kepada diri sendiri.
"Aku juga pernah mengalami itu."
"Masalahmu sebenarnya nggak seberapa."
"Kalau aku jadi kamu, aku pasti..."
Kalimat-kalimat seperti ini mungkin terdengar seperti bentuk perhatian. Padahal, terkadang orang tersebut hanya membutuhkan satu hal sederhana: didengarkan.
Ada kebiasaan yang membuat kita sulit menjadi pendengar yang baik, yaitu merasa harus selalu memberikan jawaban.
Ketika seseorang bercerita bahwa ia sedang lelah, kita langsung memberikan solusi.
Ketika teman sedang kecewa, kita buru-buru mengatakan apa yang seharusnya ia lakukan.
Ketika seseorang sedang sedih, kita mengatakan bahwa masih banyak orang yang hidupnya lebih sulit.
Padahal, tidak semua cerita adalah permintaan solusi.
Kadang seseorang hanya ingin mengatakan, "Hari ini berat banget."
Dan respons terbaik mungkin bukan nasihat panjang.
Cukup dengan, "Aku ngerti. Cerita aja kalau kamu mau."
Mendengarkan bukan berarti harus menyetujui semua yang dikatakan. Kita tetap boleh memiliki pendapat berbeda. Namun, sebelum memberikan pendapat, berikan kesempatan kepada orang tersebut untuk menyelesaikan ceritanya.
Karena ada perbedaan antara mendengarkan untuk memahami dan mendengarkan hanya untuk menunggu giliran bicara.
Coba perhatikan hubunganmu dengan orang-orang di sekitarmu.
Apakah kamu sering menghubungi mereka ketika sedang punya masalah?
Apakah kamu merasa kesal ketika mereka tidak merespons ceritamu?
Namun, ketika mereka mulai bercerita, apakah kamu benar-benar memberikan perhatian yang sama?
Jika jawabannya tidak, mungkin tidak berarti kamu orang yang buruk. Bisa jadi kamu hanya belum menyadari bahwa hubungan membutuhkan timbal balik.
Pertemanan, keluarga, maupun hubungan romantis tidak seharusnya menjadi tempat seseorang terus-menerus menjadi pembicara dan yang lain hanya menjadi pendengar.
Semua orang ingin dimengerti.
Semua orang ingin memiliki ruang untuk bercerita.
Semua orang juga memiliki hari buruk yang mungkin tidak terlihat dari luar.
Karena itu, sesekali cobalah menahan keinginan untuk menceritakan pengalamanmu sendiri. Jangan buru-buru menghubungkan cerita mereka dengan kehidupanmu. Jangan langsung mencari kesalahan. Dengarkan saja.
Tanyakan, "Kamu mau didengarkan atau mau dibantu mencari solusi?"
Pertanyaan sederhana itu bisa mengubah cara kita berkomunikasi.
Pada akhirnya, didengar memang terasa menyenangkan. Tetapi menjadi orang yang mampu mendengarkan juga merupakan bentuk kasih sayang yang tidak kalah penting.
Jangan sampai kita terus kecewa karena merasa tidak ada yang memahami kita, sementara selama ini kita sendiri tidak pernah benar-benar berusaha memahami orang lain.
Karena hubungan yang sehat bukan tentang siapa yang paling banyak didengar.
Hubungan yang sehat dibangun oleh orang-orang yang bersedia bergantian membuka hati, berbicara, dan benar-benar mendengarkan.