Menulis di Beritacinta, saya berbagi cerita, tips, dan inspirasi seputar cinta dan hubungan. Semoga tulisan-tulisan di sini bisa menemani dan memberi warna di perjalanan cinta kamu.
96
Chat menjadi salah satu cara utama pasangan atau orang yang sedang PDKT berkomunikasi. Dari pesan singkat, seseorang bisa menunjukkan perhatian, ketertarikan, bahkan cara memperlakukan orang lain. Namun, tidak semua pola komunikasi yang terlihat biasa sebenarnya sehat.
Beberapa red flags dalam chat sering dianggap sebagai hal kecil. Balasan yang tiba-tiba berubah, pertanyaan yang terlalu mengontrol, atau sikap yang membuat seseorang merasa bersalah bisa terus dibiarkan karena dianggap sebagai bagian dari komunikasi. Padahal, pola tersebut perlu diperhatikan terutama jika terjadi berulang dan membuat salah satu pihak merasa tidak nyaman.
Pola Chat yang Perlu Mulai Diperhatikan
Salah satu tanda yang sering diabaikan adalah respons yang sangat tidak konsisten. Seseorang bisa sangat perhatian selama beberapa hari, kemudian tiba-tiba menghilang tanpa penjelasan. Setelah kembali, ia bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Sekali dua kali mungkin dapat terjadi karena kesibukan, tetapi pola berulang dapat menunjukkan komunikasi yang tidak jelas.
Red flag lain adalah ketika seseorang hanya menghubungi saat membutuhkan sesuatu. Misalnya, ia muncul ketika sedang kesepian, membutuhkan bantuan, atau ingin mendapatkan perhatian, tetapi jarang menunjukkan ketertarikan terhadap kehidupan lawan bicaranya.
Ada pula bentuk komunikasi yang terlalu mengontrol. Pertanyaan seperti “Kamu di mana?”, “Sama siapa?”, atau “Kenapa online tapi tidak membalas?” belum tentu bermasalah jika disampaikan sesekali. Namun, jika berubah menjadi tuntutan untuk selalu memberikan laporan dan membuat seseorang takut terlambat membalas, komunikasi tersebut dapat menjadi tidak sehat.
Perhatikan juga pesan yang sengaja membuat seseorang merasa bersalah. Kalimat seperti menyalahkan pasangan karena tidak membalas dengan cepat atau mengancam akan pergi setiap kali keinginan tidak terpenuhi dapat menjadi bentuk tekanan emosional.
Jangan Menganggap Semua Red Flag sebagai Hal Sepele
Tidak semua kebiasaan chat yang berbeda berarti seseorang memiliki niat buruk. Setiap orang memiliki gaya komunikasi, kesibukan, dan kebutuhan ruang yang berbeda. Karena itu, satu kejadian sebaiknya tidak langsung dijadikan kesimpulan tentang karakter seseorang.
Yang lebih penting adalah melihat pola, frekuensi, dan dampaknya. Apakah komunikasi tersebut membuat Anda terus merasa cemas? Apakah Anda takut menyampaikan pendapat karena khawatir akan dihukum dengan didiamkan? Apakah Anda merasa harus selalu mengikuti keinginan orang tersebut agar hubungan tetap baik?
Jika jawabannya sering iya, masalahnya mungkin bukan sekadar cara membalas chat.
Cobalah membicarakan hal tersebut secara langsung. Jelaskan perilaku yang membuat tidak nyaman dan bagaimana komunikasi yang lebih sehat menurut Anda. Orang yang menghargai hubungan seharusnya dapat mendengarkan dan mencari jalan tengah.
Pada akhirnya, chat memang hanya bagian kecil dari sebuah hubungan. Namun, pola komunikasi melalui pesan dapat memberikan gambaran mengenai cara seseorang menghargai batasan, perhatian, dan perasaan pasangannya. Jangan buru-buru menghakimi, tetapi jangan pula terus mengabaikan sesuatu yang berulang kali membuat Anda merasa tidak aman.