Menulis di Beritacinta, saya berbagi cerita, tips, dan inspirasi seputar cinta dan hubungan. Semoga tulisan-tulisan di sini bisa menemani dan memberi warna di perjalanan cinta kamu.
112
Ada kalanya proses move on bukan hanya tentang melupakan seseorang yang pernah dicintai. Ada bagian lain yang jauh lebih sulit, yaitu berdamai dengan diri sendiri setelah menyadari bahwa kita pernah bertahan terlalu lama, terlalu banyak memaklumi, atau memilih seseorang yang ternyata tidak tepat.
Rasa bersalah sering muncul setelah hubungan berakhir. Kita mulai bertanya, mengapa dulu tidak pergi lebih cepat? Mengapa terus memberikan kesempatan? Mengapa tetap percaya meskipun berkali-kali merasa kecewa? Pertanyaan seperti itu dapat membuat seseorang terus hidup di masa lalu.
Padahal, keputusan yang dibuat ketika itu mungkin lahir dari pengetahuan dan perasaan yang kita miliki saat itu. Kita bertahan karena masih mencintai, berharap keadaan berubah, atau percaya bahwa hubungan tersebut masih bisa diperbaiki.
Terlalu Sabar Bukan Berarti Bodoh
Ada orang yang setelah hubungan berakhir justru menyalahkan dirinya sendiri karena terlalu sabar. Ia merasa seharusnya sudah menyadari tanda-tanda masalah sejak awal dan memilih pergi sebelum semakin terluka.
Namun, kesabaran tidak selalu merupakan kesalahan. Ada kalanya kita memang membutuhkan waktu untuk memahami seseorang dan mengetahui apakah sebuah hubungan masih layak diperjuangkan. Yang perlu dilepaskan bukan pengalaman tersebut, tetapi kebiasaan menghukum diri karena keputusan masa lalu.
Hal yang sama berlaku ketika kita pernah memaksakan sebuah hubungan. Keinginan untuk mempertahankan seseorang bisa membuat kita mengabaikan kenyataan bahwa hubungan membutuhkan usaha dari dua pihak. Ketika hanya satu orang yang terus berjuang, hubungan perlahan terasa seperti beban.
Menyadari hal tersebut memang menyakitkan, tetapi kesadaran itu dapat menjadi pelajaran. Kita mulai memahami bahwa mencintai seseorang tidak berarti harus terus memaksakan sesuatu yang sudah tidak berjalan.
Memaafkan Pilihan yang Pernah Salah
Memilih orang yang salah juga tidak membuat seseorang menjadi gagal dalam mencintai. Kita tidak selalu bisa mengetahui bagaimana seseorang akan bersikap setelah hubungan berjalan lebih jauh.
Mungkin dulu kita melihat kebaikannya, percaya pada perkataannya, dan membayangkan masa depan bersamanya. Ketika semuanya berubah, mudah untuk berpikir bahwa kita telah membuat keputusan paling buruk dalam hidup.
Padahal, seseorang tidak harus sempurna dalam memilih pasangan. Yang penting adalah mampu belajar dari pengalaman tersebut.
Memaafkan diri berarti menerima bahwa kita pernah salah tanpa menjadikan kesalahan itu sebagai identitas. Kita boleh menyesal, tetapi tidak harus terus menghukum diri. Kita boleh mengingat masa lalu, tetapi tidak perlu kembali hidup di dalamnya.
Move on bukan berarti mengatakan bahwa semua yang terjadi tidak penting. Move on berarti menerima bahwa pengalaman tersebut sudah menjadi bagian dari perjalanan hidup, kemudian memilih untuk melangkah tanpa membawa rasa bersalah yang sama.
Pada akhirnya, mungkin orang yang paling perlu kita maafkan bukan mantan pasangan, melainkan diri sendiri yang dulu hanya sedang berusaha mencintai dengan cara yang ia tahu.