Menulis di Beritacinta, saya berbagi cerita, tips, dan inspirasi seputar cinta dan hubungan. Semoga tulisan-tulisan di sini bisa menemani dan memberi warna di perjalanan cinta kamu.
44
Ghosting adalah perilaku ketika seseorang tiba-tiba menghentikan komunikasi dan menghilang tanpa memberikan penjelasan kepada orang yang sebelumnya dekat dengannya. Hal ini dapat terjadi dalam tahap PDKT, hubungan romantis, pertemanan, bahkan komunikasi profesional.
Ada situasi ketika seseorang memang merasa tidak nyaman atau tidak lagi ingin melanjutkan hubungan. Setiap orang memiliki hak untuk menentukan dengan siapa mereka ingin berhubungan. Namun, persoalannya bukan selalu tentang keputusan untuk pergi, melainkan bagaimana cara seseorang mengakhiri komunikasi tersebut.
Ketika seseorang menghilang tanpa penjelasan, orang yang ditinggalkan bisa merasa bingung karena tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Pertanyaan seperti “Apa salahku?” atau “Kenapa dia tiba-tiba berubah?” dapat terus muncul karena tidak adanya kepastian.
Ketika Menghilang Bisa Menjadi Bentuk Perlindungan Diri
Tidak semua tindakan menghilang dapat langsung disebut sebagai ketidakdewasaan emosional. Dalam situasi tertentu, menjauh dari seseorang dapat menjadi cara melindungi diri, terutama ketika komunikasi sudah membuat seseorang merasa terancam, ditekan, dimanipulasi, atau tidak aman.
Misalnya, seseorang yang berhadapan dengan perilaku agresif atau terus-menerus mendapatkan tekanan mungkin memilih menghentikan komunikasi tanpa memberikan penjelasan panjang. Dalam kondisi seperti ini, keselamatan dan batas pribadi dapat menjadi pertimbangan utama.
Namun, jika situasinya relatif aman dan hanya karena sudah tidak tertarik, memberikan penjelasan singkat biasanya merupakan bentuk penghargaan terhadap orang lain. Tidak harus memberikan alasan panjang atau membuka seluruh perasaan pribadi.
Kalimat sederhana seperti, “Aku merasa kita tidak cocok untuk melanjutkan hubungan ini. Semoga kamu menemukan orang yang tepat,” sudah dapat memberikan kejelasan tanpa memperpanjang percakapan.
Hak untuk Pergi Tetap Perlu Diiringi Etika
Seseorang memang memiliki hak untuk mengakhiri hubungan atau pendekatan. Tidak ada kewajiban untuk mempertahankan hubungan hanya karena sudah pernah memberikan perhatian. Namun, kebebasan untuk pergi tidak selalu berarti bebas mengabaikan dampak dari cara pergi tersebut.
Ghosting dapat membuat orang yang ditinggalkan mengalami kebingungan, kecewa, kehilangan kepercayaan, bahkan terus mencari kesalahan dalam dirinya sendiri. Terlebih jika sebelumnya komunikasi berlangsung intens dan tiba-tiba berhenti tanpa tanda yang jelas.
Karena itu, penting membedakan antara menetapkan batas dan menghilang tanpa alasan. Menetapkan batas berarti seseorang menyampaikan bahwa ia ingin berhenti berkomunikasi atau membutuhkan jarak. Sementara ghosting membuat pihak lain harus menebak-nebak apa yang terjadi.
Pada akhirnya, seseorang berhak memilih untuk tidak melanjutkan hubungan. Namun, ketika kondisi memungkinkan, komunikasi yang singkat, jujur, dan sopan dapat menjadi cara yang lebih menghargai kedua pihak. Pergi tidak selalu harus menyakitkan, tetapi cara seseorang meninggalkan hubungan dapat menunjukkan bagaimana ia menghargai orang yang pernah hadir dalam hidupnya.