Ambar Arum Putri Hapsari
mahasiswa Universitas STEKOM, BERITA CINTAMenulis di Beritacinta, saya berbagi cerita, tips, dan inspirasi seputar cinta dan hubungan. Semoga tulisan-tulisan di sini bisa menemani dan memberi warna di perjalanan cinta kamu.
Kita sering dengar istilah laki buaya buat nyebut cowok yang doyan main hati. Suka tebar pesona. Gampang janji manis. Susah setia.
Tapi ada yang ironis.
Secara ilmiah, beberapa spesies buaya justru dikenal cukup protektif dan setia pada pasangannya. Jadi kenapa hewan yang katanya setia malah jadi simbol pria yang gemar selingkuh?
Lucu juga ya.
Penelitian tentang perilaku reptil menunjukkan bahwa beberapa spesies buaya memiliki pola monogami musiman, bahkan bisa bertahan dengan pasangan yang sama selama beberapa periode berkembang biak. Mereka juga menjaga sarang dan anaknya dengan cukup agresif.
Artinya, secara biologis, buaya bukan makhluk yang asal ganti pasangan tiap minggu.
Lalu kenapa reputasinya hancur di dunia percintaan manusia?
Jawabannya lebih ke simbolisme, bukan sains.
Dalam budaya populer Indonesia, istilah buaya darat muncul untuk menggambarkan pria yang lihai merayu dan tidak bisa dipercaya. Buaya dianggap hewan yang diam di bawah permukaan, menunggu momen tepat untuk menyerang.
Karakteristik itu yang kemudian diasosiasikan dengan pria yang tampak tenang, meyakinkan, tapi ternyata punya banyak gebetan.
Padahal ini murni metafora.
Fenomena pelabelan seperti ini sebenarnya sering terjadi dalam bahasa. Kita cenderung memakai hewan untuk menggambarkan sifat manusia. Misalnya, serigala untuk agresif atau kambing hitam untuk pihak yang disalahkan.
Dalam kajian psikologi sosial yang juga banyak dibahas oleh American Psychological Association, pelabelan seperti ini bisa membentuk persepsi kolektif dan bahkan memengaruhi cara seseorang diperlakukan.
Jadi ketika seseorang sudah dicap laki buaya, stigma itu sering lebih kuat daripada fakta sebenarnya.
Ironisnya, buaya sebagai hewan mungkin tidak pernah minta dijadikan simbol playboy. Bahkan di beberapa budaya, buaya justru dianggap simbol kekuatan dan perlindungan.
Tapi di konteks percintaan, reputasinya telanjur rusak.
Ini juga jadi pengingat bahwa istilah populer sering tidak selalu akurat secara ilmiah. Banyak yang lahir dari humor, sindiran, dan pengalaman sosial.
Jadi, lain kali kamu menyebut seseorang laki buaya, ingat satu hal.
Secara biologis, mungkin buayanya lebih setia daripada manusianya.
Dan mungkin, yang perlu dibenahi bukan nama hewannya. Tapi perilaku manusianya.