Ambar Arum Putri Hapsari
mahasiswa Universitas STEKOM, BERITA CINTAMenulis di Beritacinta, saya berbagi cerita, tips, dan inspirasi seputar cinta dan hubungan. Semoga tulisan-tulisan di sini bisa menemani dan memberi warna di perjalanan cinta kamu.
Pernah merasa semuanya baik-baik saja, padahal sebenarnya tidak? Atau tetap bertahan dalam situasi yang jelas menyakitkan? Bisa jadi itu adalah bentuk denial.
Banyak orang mengalami denial tanpa sadar. Ini bukan karena lemah, tapi karena otak mencoba melindungi diri dari kenyataan yang terasa berat.
Denial adalah kondisi ketika seseorang menolak atau tidak mau menerima kenyataan, meskipun bukti sudah jelas ada.
Biasanya ini terjadi karena:
Denial sering menjadi “tameng” sementara agar seseorang tidak langsung merasa sakit.
Dalam hubungan, denial bisa terlihat seperti:
Di luar hubungan, denial juga bisa muncul dalam:
Secara psikologis, denial adalah mekanisme pertahanan diri. Otak berusaha “menunda” rasa sakit agar kita punya waktu untuk menyesuaikan diri.
Namun, jika terlalu lama, denial justru bisa membuat seseorang:
Awalnya terasa aman, tapi lama-lama:
Denial yang berkepanjangan bisa membuat seseorang kehilangan arah.
Langkah pertama adalah menjadi jujur pada diri sendiri. Tidak harus langsung menerima semuanya, tapi mulai dengan mengakui bahwa ada sesuatu yang tidak beres.
Pelan-pelan, coba lihat fakta yang ada tanpa ditutup-tutupi. Tidak mudah, tapi itu adalah awal dari perubahan.
Denial adalah hal yang manusiawi. Semua orang pernah mengalaminya. Namun, terlalu lama berada di dalamnya justru bisa menyakiti diri sendiri.
Menerima kenyataan memang tidak selalu mudah, tapi di situlah proses bertumbuh dimulai.