Ambar Arum Putri Hapsari
mahasiswa Universitas STEKOM, BERITA CINTAMenulis di Beritacinta, saya berbagi cerita, tips, dan inspirasi seputar cinta dan hubungan. Semoga tulisan-tulisan di sini bisa menemani dan memberi warna di perjalanan cinta kamu.
Kalimat ini sering banget muncul
“Sekali selingkuh, tetap selingkuh.”
Tapi apakah orang dengan riwayat selingkuh benar-benar tidak bisa berubah?
Atau sebenarnya tergantung pada kesadaran dan prosesnya?
Jawabannya tidak hitam putih.
Selingkuh jarang terjadi tanpa alasan.
Beberapa faktor umum
Kurangnya kepuasan emosional
Mencari validasi
Kontrol diri yang lemah
Masalah komitmen
Pola attachment tidak sehat
Kalau akar masalahnya tidak disadari, besar kemungkinan pola itu terulang.
Bukan karena takdir.
Tapi karena tidak pernah dibereskan.
Bisa. Tapi tidak otomatis.
Perubahan butuh tiga hal utama
Kesadaran penuh bahwa itu salah
Penyesalan yang tulus, bukan sekadar takut ketahuan
Usaha nyata memperbaiki diri
Tanpa itu, riwayat selingkuh hanya jadi jeda sebelum pengulangan berikutnya.
Orang bisa berubah.
Tapi tidak semua orang mau berubah.
Kalau pasangan pernah selingkuh dan ingin memperbaiki, biasanya ada ciri
Transparan soal komunikasi
Tidak defensif saat dibahas
Konsisten membangun ulang kepercayaan
Bersedia ikut konseling bila perlu
Perubahan terlihat dari tindakan jangka panjang, bukan janji sesaat.
Satu hal yang sering dilupakan
Meskipun pelaku berubah, korban tetap membawa luka.
Trust issue.
Overthinking.
Rasa tidak aman.
Proses pemulihan bukan cuma tugas satu pihak.
Hubungan pasca-selingkuh butuh komitmen dua arah yang sangat kuat.
Tidak selalu.
Ada pasangan yang berhasil membangun ulang hubungan setelah pengkhianatan.
Ada juga yang terus terjebak dalam pola yang sama.
Kuncinya bukan pada masa lalunya saja.
Tapi pada bagaimana ia memaknai masa lalu itu.
Kalau riwayat selingkuh dijadikan alasan
“Ya aku emang begini orangnya”
Maka kemungkinan besar akan terulang.
Tapi kalau dijadikan titik refleksi dan perubahan, peluang sembuh tetap ada.
Pada akhirnya, kamu juga berhak bertanya pada diri sendiri.
Apakah kamu siap membangun ulang kepercayaan?
Apakah dia benar-benar menunjukkan perubahan?
Karena memaafkan itu pilihan.
Tapi bertahan dalam pola yang sama adalah risiko.
Dan kamu pantas mendapatkan hubungan yang membuatmu tenang, bukan terus waspada.