Ambar Arum Putri Hapsari
mahasiswa Universitas STEKOM, BERITA CINTAMenulis di Beritacinta, saya berbagi cerita, tips, dan inspirasi seputar cinta dan hubungan. Semoga tulisan-tulisan di sini bisa menemani dan memberi warna di perjalanan cinta kamu.
Pertanyaan apakah tabiat selingkuh adalah warisan dari gen orang tua sering muncul ketika seseorang melihat pola yang berulang dalam sebuah keluarga. Misalnya, ada anak yang tumbuh dengan ayah atau ibu yang pernah berselingkuh, lalu saat dewasa ia juga melakukan hal yang sama. Kondisi seperti ini membuat sebagian orang percaya bahwa perselingkuhan mungkin diturunkan secara genetik.
Namun, kenyataannya tidak sesederhana itu. Hingga saat ini, tidak ada bukti ilmiah yang menyatakan bahwa seseorang pasti akan menjadi selingkuh hanya karena memiliki orang tua yang pernah berselingkuh. Perilaku manusia merupakan hasil dari kombinasi berbagai faktor, mulai dari kepribadian, lingkungan, pengalaman hidup, hingga kemampuan mengendalikan diri.
Karena itu, penting untuk memahami bahwa hubungan antara gen, pola asuh, dan perilaku jauh lebih kompleks daripada sekadar "turunan dari orang tua".
Beberapa penelitian dalam bidang psikologi dan genetika menunjukkan bahwa faktor biologis dapat memengaruhi karakter tertentu, seperti kecenderungan mencari sensasi baru, impulsivitas, atau kemampuan mengontrol dorongan diri. Sifat-sifat tersebut dalam beberapa kasus dapat berkaitan dengan risiko seseorang melakukan perselingkuhan.
Namun, gen tidak bekerja seperti tombol yang otomatis menentukan perilaku seseorang. Memiliki kecenderungan tertentu bukan berarti seseorang akan pasti bertindak dengan cara tertentu.
Sebagai contoh, seseorang mungkin memiliki sifat mudah bosan atau suka mencari pengalaman baru. Akan tetapi, apakah sifat tersebut akan berujung pada perselingkuhan sangat dipengaruhi oleh nilai hidup, komitmen, kedewasaan emosional, dan keputusan yang ia ambil.
Dengan kata lain, gen mungkin berperan dalam membentuk kecenderungan tertentu, tetapi keputusan untuk setia atau tidak tetap berada di tangan individu itu sendiri.
Inilah alasan mengapa dua orang yang berasal dari keluarga dengan latar belakang yang sama bisa tumbuh menjadi pribadi yang sangat berbeda. Satu orang mungkin mengulangi kesalahan orang tuanya, sementara yang lain justru belajar dari pengalaman tersebut dan berusaha menghindarinya.
Dalam banyak kasus, pengaruh terbesar justru datang dari lingkungan tempat seseorang tumbuh. Anak belajar banyak hal dengan cara mengamati perilaku orang-orang terdekatnya, terutama orang tua.
Jika sejak kecil seseorang melihat perselingkuhan sebagai hal yang biasa, ditoleransi, atau tidak memiliki konsekuensi yang jelas, ia mungkin membentuk pandangan yang berbeda tentang kesetiaan dibandingkan dengan orang yang tumbuh dalam lingkungan yang menjunjung tinggi komitmen.
Sebaliknya, ada juga anak yang menyaksikan dampak buruk perselingkuhan dalam keluarganya. Pengalaman tersebut justru membuatnya bertekad untuk membangun hubungan yang lebih sehat ketika dewasa.
Hal ini menunjukkan bahwa pengalaman hidup dapat memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap cara seseorang memandang hubungan. Nilai, pendidikan, lingkungan sosial, serta kualitas komunikasi dalam keluarga sering kali memiliki peran yang lebih nyata dibandingkan dengan faktor genetik semata.
Pada akhirnya, tidak ada gen khusus yang membuat seseorang pasti menjadi selingkuh. Meski faktor biologis dapat memengaruhi sebagian karakter, keputusan untuk setia atau tidak tetap merupakan hasil dari pilihan pribadi. Jadi, memiliki orang tua yang pernah berselingkuh bukanlah vonis bahwa seseorang akan mengulangi perilaku yang sama. Setiap orang tetap memiliki kemampuan untuk belajar, berkembang, dan menentukan jalan hidupnya sendiri.