Ambar Arum Putri Hapsari
mahasiswa Universitas STEKOM, BERITA CINTAMenulis di Beritacinta, saya berbagi cerita, tips, dan inspirasi seputar cinta dan hubungan. Semoga tulisan-tulisan di sini bisa menemani dan memberi warna di perjalanan cinta kamu.
Overthinking adalah kebiasaan memikirkan suatu masalah secara berlebihan hingga sulit berhenti. Seseorang yang overthinking sering mengulang-ulang kekhawatiran di dalam pikirannya, membayangkan berbagai kemungkinan buruk, atau terus menyalahkan diri sendiri atas hal yang sudah terjadi. Kondisi ini tidak hanya melelahkan secara mental, tetapi juga dapat memengaruhi kesehatan fisik, termasuk perubahan berat badan.
Menariknya, dampak overthinking terhadap berat badan tidak selalu sama pada setiap orang. Ada yang mengalami kenaikan berat badan, sementara yang lain justru mengalami penurunan. Hal ini bergantung pada bagaimana tubuh dan kebiasaan seseorang merespons stres yang dialami.
Karena itu, jika akhir-akhir ini berat badanmu berubah tanpa penyebab yang jelas dan kamu juga sedang sering overthinking, ada baiknya mulai memperhatikan hubungan antara kondisi emosional dan kesehatan tubuhmu.
Saat seseorang terus-menerus berada dalam tekanan mental, tubuh akan melepaskan hormon stres, seperti kortisol. Jika kadar hormon ini meningkat dalam waktu yang lama, nafsu makan pada sebagian orang dapat ikut berubah.
Ada orang yang menjadi lebih sering makan sebagai cara mencari rasa nyaman. Mereka cenderung mengonsumsi makanan tinggi gula, lemak, atau karbohidrat karena makanan tersebut dapat memberikan rasa senang untuk sementara. Kebiasaan ini sering dikenal sebagai emotional eating, yaitu makan untuk meredakan emosi, bukan karena benar-benar lapar.
Sebaliknya, ada juga orang yang kehilangan selera makan saat pikirannya dipenuhi kekhawatiran. Mereka merasa sulit menikmati makanan, cepat kenyang, atau bahkan lupa makan karena terlalu fokus memikirkan masalah yang dihadapi.
Selain pola makan, overthinking juga dapat memengaruhi kualitas tidur. Kurang tidur dapat mengganggu keseimbangan hormon yang mengatur rasa lapar dan kenyang. Akibatnya, seseorang bisa menjadi lebih mudah lapar atau justru kehilangan energi untuk menjalani aktivitas sehari-hari.
Semua perubahan tersebut dapat berkontribusi pada kenaikan atau penurunan berat badan jika berlangsung dalam jangka waktu yang lama.
Berat badan bukan hanya dipengaruhi oleh makanan dan olahraga, tetapi juga oleh kondisi psikologis. Ketika pikiran terus-menerus berada dalam keadaan tegang, tubuh ikut bekerja lebih keras untuk menghadapi stres tersebut.
Karena itu, mengelola overthinking bukan hanya penting untuk kesehatan mental, tetapi juga untuk kesehatan fisik. Cobalah mengenali pemicu yang membuatmu terus berpikir berlebihan. Setelah itu, cari cara yang sehat untuk mengelolanya, seperti menulis jurnal, berolahraga, berbicara dengan orang yang dipercaya, atau melakukan aktivitas yang membuat pikiran lebih tenang.
Jika overthinking sudah berlangsung lama hingga mengganggu tidur, pola makan, pekerjaan, atau hubungan dengan orang lain, tidak ada salahnya mencari bantuan dari tenaga profesional. Mendapatkan dukungan bukan berarti kamu lemah, tetapi menunjukkan bahwa kamu peduli terhadap kesehatanmu.
Pada akhirnya, overthinking memang bisa memengaruhi berat badan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Namun, perubahan berat badan biasanya terjadi karena kombinasi berbagai faktor, seperti perubahan hormon, pola makan, kualitas tidur, dan tingkat aktivitas fisik. Menjaga kesehatan pikiran sama pentingnya dengan menjaga kesehatan tubuh, karena keduanya saling berkaitan dan memengaruhi satu sama lain.