Ambar Arum Putri Hapsari
mahasiswa Universitas STEKOM, BERITA CINTAMenulis di Beritacinta, saya berbagi cerita, tips, dan inspirasi seputar cinta dan hubungan. Semoga tulisan-tulisan di sini bisa menemani dan memberi warna di perjalanan cinta kamu.
Putus baik baik lebih sakit adalah kondisi emosional yang sering tidak dianggap serius. Situasi ini merupakan perpisahan yang terlihat dewasa, tenang, dan saling menghormati, tapi diam diam menyisakan luka yang dalam. Rasa perihnya ialah bentuk patah hati yang tidak meledak, namun menetap lama di dalam dada.
Banyak orang berpikir putus tanpa drama itu ideal. Tidak ada teriakan, tidak ada saling menyalahkan, dan tidak ada kata kasar. Tapi justru karena semuanya terlihat rapi, perasaan jadi tidak punya ruang untuk tumpah. Sakitnya tertahan, tidak tersalurkan, dan akhirnya mengendap.
Istilah kata gaul putus baik baik lebih sakit menggambarkan perpisahan yang tampak damai di luar, tapi kacau di dalam. Tidak ada konflik besar sebagai alasan membenci. Tidak ada kejadian buruk yang bisa dijadikan penutup. Semua berakhir dengan kata terima kasih dan doa baik baik saja.
Masalahnya, ketika tidak ada alasan untuk marah, hati justru lebih sulit move on. Tidak bisa membenci, tidak bisa melupakan, dan tidak bisa menyesal sepenuhnya. Kenangan baik jadi lebih dominan daripada luka, sehingga rasa kehilangan terasa lebih berat.
Perpisahan seperti ini sering menyisakan banyak pertanyaan. Kalau sama sama baik, kenapa harus berakhir. Kalau masih saling peduli, kenapa memilih pergi. Pertanyaan tanpa jawaban inilah yang membuat perihnya bertahan lebih lama.
Putus baik baik juga membuat seseorang cenderung memendam emosi. Karena merasa tidak pantas untuk bersedih berlebihan. Lingkungan sering bilang setidaknya kalian pisah secara dewasa. Padahal dewasa tidak berarti tidak terluka.
Di fase ini, rasa kangen datang tanpa arah. Tidak ada alasan untuk menghubungi, tapi juga tidak ada alasan kuat untuk benar benar menjauh. Hati terjebak di tengah, antara menerima dan berharap.
Proses sembuh dari putus baik baik lebih sakit butuh kejujuran pada diri sendiri. Mengakui bahwa perpisahan yang tenang tetap bisa menyakitkan. Bahwa tidak semua luka datang dari konflik, sebagian datang dari kehilangan yang sunyi.
Belajar merelakan tanpa membenci memang lebih berat. Tapi dari situ, seseorang belajar bahwa menutup hubungan dengan baik tidak selalu berarti hati ikut baik baik saja. Kadang, justru perpisahan paling tenang menyimpan rasa paling perih.