Ambar Arum Putri Hapsari
mahasiswa Universitas STEKOM, BERITA CINTAMenulis di Beritacinta, saya berbagi cerita, tips, dan inspirasi seputar cinta dan hubungan. Semoga tulisan-tulisan di sini bisa menemani dan memberi warna di perjalanan cinta kamu.
Bahasa gaul ialah refleksi dari pengalaman emosional yang sering terjadi dalam hubungan modern. Banyak orang menjalani kedekatan tanpa benar benar memahami posisi dirinya dalam relasi tersebut. Perasaan nyaman, perhatian rutin, dan komunikasi intens bisa memberi ilusi kedekatan yang mendalam. Namun dalam beberapa kasus, kedekatan itu hanya bersifat sementara dan tidak memiliki tujuan jangka panjang. Kondisi inilah yang dikenal dengan istilah emotional placeholder.
Emotional placeholder digunakan untuk menggambarkan seseorang yang dijadikan pengisi waktu sementara secara emosional. Dalam posisi ini, seseorang diberi perhatian, kedekatan, dan rasa dibutuhkan, tetapi tidak pernah benar benar diprioritaskan. Hubungan berjalan tanpa kejelasan arah karena kehadirannya hanya untuk mengisi kekosongan emosional pihak lain.
Pola emotional placeholder sering terasa membingungkan bagi yang mengalaminya. Di satu sisi, perhatian yang diberikan terasa nyata dan konsisten. Di sisi lain, tidak ada komitmen atau kejelasan masa depan. Seseorang merasa dekat, tetapi tidak pernah merasa aman secara emosional.
Kondisi ini biasanya muncul ketika seseorang belum siap sendiri, baru putus, atau masih terikat secara emosional dengan masa lalu. Daripada benar benar sendiri, mereka memilih menghadirkan orang lain sebagai teman emosional sementara. Sayangnya, pihak yang dijadikan emotional placeholder sering kali tidak menyadari perannya sejak awal.
Dampak emotional placeholder cukup besar terhadap kesehatan emosional. Seseorang bisa merasa dimanfaatkan, tidak cukup berharga, dan mudah menyalahkan diri sendiri. Ketika hubungan berakhir tiba tiba, rasa kehilangan yang muncul terasa tidak sebanding dengan pengakuan yang pernah diterima.
Istilah emotional placeholder menjadi populer karena banyak orang akhirnya menemukan pola yang sama dalam pengalaman mereka. Bahasa gaul membantu memberi nama pada rasa tidak nyaman yang sebelumnya sulit dijelaskan. Dengan memahami istilah ini, seseorang dapat lebih waspada terhadap hubungan yang terasa dekat namun tidak jelas.
Perbedaan antara hubungan sehat dan emotional placeholder terletak pada niat dan kejelasan. Hubungan sehat dibangun atas ketertarikan dua arah dan tujuan bersama. Sementara emotional placeholder hanya berfungsi sebagai penyangga emosi tanpa rencana jangka panjang.
Menyadari bahwa diri sendiri berada dalam posisi emotional placeholder memang tidak mudah. Namun kesadaran ini penting untuk menjaga harga diri dan kesehatan mental. Mengajukan pertanyaan tentang arah hubungan dan kebutuhan emosional pribadi menjadi langkah awal yang penting.
Menghindari emotional placeholder bukan berarti menutup diri dari kedekatan. Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk meminta kejelasan dan konsistensi. Hubungan yang layak dipertahankan adalah hubungan yang memberi ruang tumbuh, bukan sekadar mengisi waktu.
Pada akhirnya, emotional placeholder sebagai istilah kata gaul menjadi pengingat bahwa setiap orang pantas mendapat kejelasan. Kedekatan emosional seharusnya membawa rasa aman dan dihargai, bukan sekadar menjadi pengisi sementara dalam hidup orang lain.